Wednesday, July 20, 2016

Mudik 1437 H - rute neraka

sesuai judul, memang mudik kali ini lumayan menyisakan trauma. sedari awal perencanaan yang memang terombang-ambing karena perubahan kebijakan cuti dari kantor, plus musibah saat ibu dikabarkan ngamar di rumah sakit. alhasil, rencana juga ikut berantakan yang juga disokong planner sesama mahasiswa galau, halah.

rencana awal.
pada mulanya, setelah flight Narita-Denpasar-Bandung (rute sengaja dipilih guna hindari macet Cikampek), istirahat 2 hari lanjut Bandung-Sby terus ngebis ke Probolinggo pas malam takbir sampai hari Minggu dengan rute sebaliknya. plus, rencana rental/carter kendaraan buat main ke Jatim Park pada Jumatnya. good route, meski dana juga jadi bengkak karena pakai kendaraan umum, dan juga tidak bebas ganti plan/mampir sana-sini

faktanya,
rute Narita-Denpasar lancar jaya, meski startnya agak sedikit berubah, masih okelah bisa in time. petaka mulai saat pengambilan bagasi di DPS, lamaaaaaaaaaa banget. entah karena sudah terbiasa dengan ritme kerja di Jepang, namun klo belt bagasi baru muter sejam setelah turun dari pesawat kok ya kelewatan banget. sambil lelarian kejar check in buat flight ke Bandung, alhamdulilah antrian gak terlalu panjang. safe? tunggu dulu.
flight ke Bandung ini memang satu2nya yg available dari hitungan jam sekaligus flight terakhir hari itu. tapi yah, berhubung maskapainya si singa merah yang sudah tersohor dengan delay-nya, ya begitulah. beruntung saya delay hanya 90 mins (45mins di lounge, sisanya menunggu di pesawat), karena beberapa flight tujuan SBY dan JKT, bahkan ketika sudah tiba jam-nya, pesawatnya belum juga berangkat menuju DPS. plus kondisi pesawat yang kumuh, namun masih bisa dimaklumi jika dibandingkan dengan terbang domestik menggunakan Delta Airways rute Seattle-SF awal tahun lalu.

Image result for brebes timur macetrencana bersantai dengan keluarga mendadak sirna karena ibu dikabarkan rawat inap sejak semalam. capek, takut dan bingung, mendorong pengambilan keputusan yang kurang bijak : tiket BDG-SBY p.p dibatalkan dan pilih jalan darat, toh siapa yang bertanggung jawab klo ada apa2 dengan ibu dalam 2hari ini?? akhirnya, malam itu langsung berangkat dengan persiapan seadanya, toh puncak mudik sudah terlewati semalam, dan infonya tol sudah lancar.

neraka
memang benar adanya, tol sudah sepi. jika bukan karena hujan deras, mungkin si putih bisa melaju 100km/jam hingga ke ... palimanan saja. kok?? ya, hanya 2km setelah exit Kanci, antrean kendaraan berhenti mengular di tengah gelapnya malam. crosscek google map dan berita, kabarnya berujung hingga brexit timur. tak ingin pengalaman tahunan di pertigaan palimanan berulang, kami putuskan putar balik untuk keluar Kanci, karena tahun lalu jalur pantura relatif lebih longgar meski merambat. namun memang luar biasa, tak sampai setengah kilometer dari pertigaan Kanci pun, kendaraan sudah merambat. beberapa kendaraan mulai tidak sabar, mereka pun berinisiatif memakai jalur disebelah yang memang melompong oleh hanya beberapa motor. hanya 100m jalan, kemudian terhenti lagi setengah jam. kejadian berulang, hingga akhirnya 4jalur pantura terisi penuh kendaraan kearah timur, dan tidak bergerak. saat itu jam 3pagi, dan saya hanya berhasil menambah jarak 2km dari pertigaan Kanci. 
jam 6pagi, masih tidak bergerak dan saya sempat curi tidur setelah shubuhan. pegal dan penat mulai terasa ketika secercah harapan timbul, ada pergerakan di depan sana. para penumpang bus maupun mobil pribadi yang awalnya bertebaran di pinggir jalan, sontak kembali ke kendaraan masing2. namun, hanya 1km berselang, kembali kendaraan terhenti, dan kami pun sepakat mematikan mesin kembali. jam 8pagi, kembali ada pergerakan, namun ya begitu, 1km dan berhenti lagi, matikan mesin lagi. sementara udara pantura semakin panas, lama kelamaan saya tidak tega dengan istri dan 2 anak kecil di belakang, namun dihadapkan pilihan dilematis, hidupkan AC dan percepat habisnya fuel atau melawan panas dengan melipir ke bahu jalan. dengan sisa2 baterai di hp, diperoleh berita bahwa di depan sana, banyak mobil mogok kehabisan fuel karena seharian macet dan beberapa SPBU juga kehabisan stok karena tanki BBM terjebak macet. what???? tak tahan dengan panas, kami minggir ke rumah makan terdekat untuk rehat, toh melihat sikon juga luar biasa macetnya. kami pun segera numpang mandi, meski hanya kebagian sayur mie instan (stok makanan juga terhalang macet, begitu kata pemiliknya). setelah dhuhur, kami lanjut perjuangan menembus macet, meski dihantui stok fuel yang terbatas. 
benar saja, butuh waktu satu jam hanya untuk antre di SPBU terdekat, itupun pakai aksi bicara man-to-man dengan beberapa pengemudi mobil lainnya supaya tidak berebut antrian. namun usaha saya seakan sia2 karena serbuan pengendara motor yang dengan lincah masuk di antara antrian mobil yang berusaha rapi. ah, memang bangsaku tidak pernah ditekankan pentingnya antri dan menghargai diri sendiri. full tank dengan pertamax, insyaallah satu masalah sudah terlewati, tinggal mengalir mengikuti arus kemacetan yang nampaknya mulai menunjukkan titik terang. 
harapan kembali sirna, ketika akhirnya pertigaan Pejagan terlewati, namun kembali terhampar antrian 4jalur di depan mata. trauma dengan kejadian semalam, akhirnya kami putuskan untuk putar balik ke jalur semi tengah, mematuhi anjuran rambu yang terpasang. dan benar adanya, kami baru memasuki neraka yang sebenarnya. 

lewat 24 jam
entah mana yang lebih baik antara berhenti ala sistem buka tutup atau merambat dengan konsekuensi mesin ON terus. inilah yang terjadi ketika saya mulai masuk menyusuri jalur tengah, dimana lebar jalan menjadi setengah dari pantura, namun dengan kepadatan yang sama. saat istirahat makan malam sambil maghriban, saya mendapati badan terasa agak panas dan gemetar. memang sudah seharian saya tidak berpuasa, namun juga demi menghemat stok air, saya juga berusaha seminimal mungkin memprioritaskan bekal yang ada untuk anak dan istri, pun dengan makanan. juga, jika dirunut, sudah 3 hari ini saya tidak tidur lebih lama dari 3 jam. semoga ndak tipes. sudah lebih 24 jam sejak keberangkatan dari Bandung, namun kami tak kunjung mencapai titik tengah perjalanan ke Semarang, yaitu kota Tegal. jalan yang kami tempuh sekarang membukakan mata tentang begitu kacaunya seharian tadi. betapa tidak, setiap kali mendekati lokasi SPBU, pasti ditandai dengan jejeran ratusan meter mobil ditengah jalan dalam keadaan mati tak berpenumpang. SPBU sendiri berubah seperti arena antri sembako, dimana orang-orang berbaris membawa jerigen maupun botol aqua, pun tanpa kepastian stok BBM di SPBU tersebut. begitu berulang sepanjang jalan dari exit Pejagan hingga Slawi, sampai terbersit apakah semua ini adalah hasil rekayasa? berapa jumlah pemudik muslim yang terpaksa membatalkan puasanya, kemudian terlantar, bahkan ada yang meninggal akibat kelelahan bermacet ria ini?? secercah harapan timbul saat kota Slawi terlewati, beberapa tanda jalur alternatif terlihat. dan benar saja, meski jalan kampung belum teraspal rata, hampir tidak ada mobil yang lewat di jalan ini. hape sudah tidak dapat diakses karena lobet, saya sudah berserah diri sepenuhnya kepada yang diAtas, nyasar pun, sebentar lagi shubuh, orang kampung akan banyak yang ke masjid dan bisa untuk bertanya. saya pun terus melaju, maju dan voila, PANTURA lagi. kota Tegal terlewati, namun kondisi semalam berulang, 4jalur dan macet.

alternatif
gembira namun putus asa, setengah jalan sudah terlewati namun kembali terhampar situasi yang sama dengan sebelumnya. saya kembali tertidur, di tengah jalan, bersama ribuan kendaraan lainnya, hingga adzan shubuh hari kedua berkumandang dan ada sedikit celah untuk keluar jalur untuk mencari masjid terdekat. kesempatan rehat saya manfaatkan untuk charging, badan, pikiran dan hape. alhamdulilah, ada pencerahan dari jamaah shubuh masjid tersebut, bahwa ada jalur alternatif yang insyaallah sepi meski berupa jalan desa dan agak melambung. biarlah, asal kendaraan bergerak, paling tidak panasnya matahari akan sedikit terkurangi. atas saran rute tersebut, bergegaslah saya memacu si putih mengikuti petunjuk jalur alternatif ke Semarang. sepi, berkelok naik turun layaknya jalan Sumedang - Cimalaka. itulah sepanjang 200km lebih yang harus saya tempuh sambil sesekali bertanya kepada penduduk lokal di setiap persimpangan dengan keyword "alternatif, Semarang, bukan Pantura". sempat kami kembali berjumpa jalan Pantura, di saat itu juga kami langsung putar balik kanan. kami terus melaju dan memaksakan untuk menghindari jalan utama, hingga akhirnya selewat dhuhur, bapak mertua berela hati menjemput sebagai guide di 30km terakhir demi cucu2nya. alhamdulilah, sebelum adzan ashar hari kedua, kami tiba di Semarang setelah menempuh perjalanan selama 40jam, untuk jarak 400km (odometer menunjuk angka 550km, ekstra melambung dan putar balik).

kemana aparat?
risih saat mengingat rusuhnya antri di SPBU dimana konsumen saling berebut mengisi BBM, dan memang, hampir tidak ada aparat yang terlihat sepanjang perjalanan. entah karena saya melewati sedikit persimpangan, namun jumlah aparat berseragam yang saya temui, jika dibanding dengan tahun sebelumnya dan kondisi saat arus balik, sangat sangatlah sedikit, jika tidak boleh dibilang tidak ada. 

semoga, kejadian ini tidak berulang karena saya yakin telah meninggalkan trauma membekas bagi mereka yang mengalaminya. 

Tuesday, May 17, 2016

Norwegian Wood oleh Haruki Murakami

Image result for norwegian wood ini adalah buku kedua dari Murakami yang saya baca, kebetulan dalam versi bahasa Indonesia yang sebenarnya kurang saya gemari karena terkadang kemampuan sang translator belum tentu pas merepresentasikan maksud hati penulis. namun sudahlah, toh motivasi utama adalah harganya yang terjangkau, hehehe.
saya merasa beruntung membaca cerita ini bukan pada saat masih seumuran dengan sang tokoh utama, Watanabe, karena secara kebetulan setting lokasinya lumayan dekat dengan tempat saya belajar. pun, ternyata kisah liku-liku pergaulan remaja Jepang setengah abad yang lalu sudah sedemikian rumitnya, dan seiring bertambahnya waktu akan makin rumit, hahaha. awal mulai cerita, saya susah menebak endingnya, jika dikaitkan dengan judul maupun alur yang hanya mengalir begitu saja. namun konflik mulai meningkat saat Watanabe bertualang dengan kehidupan asramanya, kegalauan hubungannya dengan Naoko, munculnya Midori hingga peran Reiko-san yang ternyata membawa warna tersendiri. agak landai?? boleh disimpulkan seperti itu, namun sedikit banyak karya ini menginspirasi bahwa masa awal kuliah adalah saat penuh kebimbangan dan pentingnya untuk mencari jati diri. banyak pengalaman yang akan didapat, entah itu happy or sad, but never end.
anyway, semoga ada kesempatan untuk napak tilas rute Yotsuya di hari Minggu mencari jejak toko buku Kobayashi, hohoho

Sunday, May 08, 2016

Education as an Escalator for the Bright Future bersama PPI Jepang


Seperti yang tertera dalam edaran, tiga orang sesepuh dalam bidang pendidikan di Indonesia dijadwalkan ngumpul di TiTech meski start agak terlambat dari jadwal. jujur saja, ini event semi serius PPI yang saya ikuti pertama kali, karena keterbatasan akses dan waktu, namun untunglah masih sempat ngobrol dengan sesama peserta yang kebetulan beberapa diantaranya sudah pernah ketemu di acara yang lain.
Pengantar oleh bu Alinda, yang menyampaikan bahwa secara kebetulan tiga tokoh ini berada di Jepang dalam kurun waktu yang berdekatan, sehingga aji mumpung-nya juga cukup ikut andil. 
Materi dimulai oleh pak Aman, yang jujur saja, ini kali pertama saya 'mengetahui' beliau, terlebih bidangnya dalam food science. sekilas perkenalan, pak Aman mulai menyampaikan materi yang dikemas dalam cerita dari pengalaman beliau sebagai dosen hingga rektor serta keikutsertaan aktif dalam berbagai organisasi. inti dari materinya adalah Standard Setting, terutama dalam dunia akademis, bagaimana compliance dan penjaminan mutu yang diperlukan. opo iki?? hehe, untungnya saya pernah ikut workshop kelaikan udara, yang materi dasarnya kurang lebih serupa, jadi ya sedikit banyak tinggal mengiyakan, ho oh, serta naruhodo ne, hehe. di bagian akhir, beliau menambahkan poin tentang ethics in science, culture diversity, networking, serta krusialnya aktif berorganisasi.
sesi kedua, giliran pak Nuh untuk menyampaikan materi. memang, beliau secara khusus datang ke Jepang dalam rangka menerima penghargaan dari Kaisar bersama beberapa orang dari negara lain yang terpilih, sehingga secara sengaja beliau sudah menyiapkan materi yang isinya lumayan menohok uhuk uhuk. mulai dari cerita kesuksesan kompetisi seorang manusia sejak bentuk sperma kemudian bekerjasama dengan sel telur, materi mengalir kepada cita-cita memotong mata rantai kemiskinan melalui pendidikan, dengan segala upaya yang sudah dan diupayakan oleh pemerintah. beliau dengan gamblang menjelaskan mimpi era keemasan Indonesia pada 2045, tepat 100 tahun setelah merdeka, dengan potensi usia produktif yang dimiliki populasi demografi 2005-2035. pemahaman global trends serta kemampuan melihat masa depan menjadi kunci agar generasi ini tidak salah urus, terutama dengan penyakit sosial 3K (kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban). pak Nuh menyampaikan dengan gaya khas wong Jawa Timuran, hingga beberapa kali peserta masih roaming menanggapi humor cerdas yang dilontarkan beliau. pada bagian penutup, beliau berpesan agar para mahasiswa ini senantiasa berbakti pada orang tua (kandung, mertua dan para guru), gemar bersedekah, sigap beradaptasi dengan perubahan zaman, kerja keras serta bagi yang muslim, menambah amalan sholat malam dan sholawat.
Pak Bustanul mendapat giliran terakhir menyampaikan materinya. seperti pak Aman, sebenarnya beliau datang ke Jepang dalam rangka 'kedinasan' yang lain (dua-duanya aktif di organisasi internasional yang mewajibkan 'plesir dinas' keluar negeri) namun berhasil diculik bu Alinda. sebagai ekonom senior, analisa pak Bustanul sangat detil dan menyeramkan, ditambah dengan gaya penyampaian yang perlahan, sehingga ancaman middle income trap serta knowledge base economy sedikit banyak bisa saya terima.
Di penghujung, sesi tanya jawab mengalir dengan santai namun mengena. jawaban dari para sesepuh sangat menginspirasi dan menyegarkan pola pikir, terutama bahasan pengangguran intelektual serta masalah kronis lulusan luar negeri yang senantiasa kehabisan dalih karena tidak dapat mengaplikasikan ilmunya di tanah air tercinta. "jika anda punya nasionalisme; setelah mendapat kesempatan memperoleh pendidikan di luar negeri, masak gak bisa mikir?", kurang lebih begitu penutup yang disampaikan pak Nuh, menekankan kembali apa arti nasionalisme dan kesempatan bagi peserta. 
mikir yuk, berprestasi dari yang kecil, dan tingkatkan kreatifitas :D 

Friday, May 06, 2016

Kafka on the Shore by Haruki Murakami



Endingnya kecewa? ya, dan sangat!! meskipun saya tetap sangat menghargai buah karya Murakami ini. memang ini adalah buku pertamanya yang saya baca, bukan karena apa, namun alasan utama adalah paperbacknya dijual dengan harga lebih murah dibanding beberapa novel terkenal lainnya, itu saja. dan kemudian dengan kesimpulan yang mengecewakan, apakah jadi rugi? tentu tidak, hehehe. saya tetaplah bangga, sah jika dikemudian hari ada berujar sudah menamatkan novel ini, ayo diskusi, hohoho. 
jadi novel ini berkisah perjalanan kabur si tokoh utama "Kafka Tamura" di chapter ganjil, sembari berkisah ala flashback tentang Nakata, tokoh misterius yang sedari awal di chapter genap, menurut saya, menjadi kunci semua masalah gaib yang terjadi di novel ini. sudah.
kok? memang seperti itu menurut saya. kekecewaan yang sangat mendalam, sampai-sampai saya merasa tertipu sudah melahap sekitar 600halaman versi English ini karena ending yang setengah dipaksa, dan entah kenapa, meski jelas2 kategori fiksi, namun kecewa yang lebih muncul ke permukaan ketimbang kesan mendalam yang biasanya kita mahfumkan setelah membaca suatu cerita dengan embel2 bestseller. teringat memori yang lalu, setelah saya membaca sebuah novel dari pengarang Indonesia yang cukup terkenal (semoga saya tidak kembali termakan promosi) dan mendapati ending yang juga cukup mengecewakan. tidak perlulah saya sebutkan namanya, hehehe. mungkin ada baiknya, tidak terlalu serius dalam membaca sebuah cerita, apalagi berharap makna yang wah akibat intro yang wih.

Wednesday, March 09, 2016

Menjejakkan kaki di benua Amerika (II)

Hari kedua
waktunya menikmati hidup, hehe setelah malam sebelumnya sensei sudah memberikan ijin unofficial untuk sekedar berkeliling kota. sesuai rencana, pagi diniatkan untuk menghadiri konferensi sambil hunting souvenir, siangnya baru lanjut wisata. namun apa daya, cuaca tidaklah mendukung, hingga akhirnya diputuskan untuk merogoh bekal demi membeli payung, ah, padahal sudah antisipasi dengan melihat prakiraan cuaca, tapi tetap saja sore itu hujan badai telah menanti. 
capek memang tidak bisa dilawan ketika jam biologis tubuh mengisyaratkan untuk istirahat, sekental apapun kopinya, tidak pernah bisa melawan sedetik dengan terlelap. yup, bahkan ketika mendengarkan paparan orang lain pun, mata sekejap tertutup hingga terbangun oleh tepuk tangan hadirin tanda selesai paparan. ah, dasar siswa.
setelah sholat dan makan siang plus tidur sebentar, saya memberanikan diri untuk menapakkan kaki sesuai rencana semalam untuk melihat San Fransisco lebih jauh. keinginan untuk naik kereta tram saya buang jauh2, alasan utama karena mahal dan jarak tempuh yang masih bisa dimaklumi dengan kaki. tanjakan sepanjang jalan menuju Chinatown, kembali ke arah Downtown sampai deretan dermaga Pier dengan Bay Bridge terlewati di tengah gerimis tipis. ketika sang surya mulai tenggelam, kembali hujan angin layaknya di wilayah tropis menerpa, tandanya harus kembali menuju penginapan. saya pun menyempatkan mampir kembali ke sesi poster malam itu, mengingat sebenarnya semalam saya malah tak sempat melihat apa yang disajikan orang lain yang senasib dengan saya hehe. 
hujan semakin deras, ketika akhirnya saya memutuskan untuk masuk sebuah mall dan secara tak sengaja menemukan foodcourt ala pusat perbelanjaan di Indonesia, yang artinya lebih banyak pilihan menu untuk makan malam. alhamdulilah, ada sebuah francise masakan Jepang yang menawarkan nasi dan ayam teriyaki, serta dengan harga yang masuk akal. akhirnya, bisa makan nasi.

Hari ketiga
semalam, teman sekamar saya, yang ketiganya adalah mahasiswa dari Korea Selatan menceritakan perjalanan sukses mereka naik bus, menuju area Fisherman Wharf yang katanya ramah bagi pengunjung asing, dilanjutkan rental sepeda melintasi Golden Gate, dan kembali dengan naik kapal ferry. layak untuk dicoba, hanya yang saya risihkan, biaya yang dikeluarkan untuk rute itu jelas melampaui tarif menginap semalam di hostel ini, duh, makanya saya pun putar otak pencet hp untuk cari alternatif murah-cepat-tidak capek untuk sekedar membuat rute jalan ke Golden Gate Bridge serta kembali.
walhasil, setelah sepagian berkelebat di area konferensi, momen setelah makan siang dan sholat tidak boleh dihamburkan sedetik pun. sesuai info Google, saya bisa berkeliling kota selama 90 menit via bus dengan sekali membayar US$2.25. dan alhamdulilah, sopir bis pertama yang saya naiki menuju ke Golden Gate menggratiskan perjalanan saya, setelah memastikan saya seorang visitor untuk wisata. puas berfoto di Golden Gate, saya kembali cek rute bis. kali ini resmi membayar untuk trip 90 menit tadi, dan syukurlah, saya merasa kurang sreg dengan area Fisherman Wharf yang memang sepertinya dikhususkan bagi wisatawan, jadi setelahnya saya langsung cari bis lagi untuk melambung sisi lain San Fransisco. 
90 menit tak berasa sudah berlalu, memang belum ujung ke ujung kota ini saya jejaki, namun cukuplah dengan jika dibanding dengan durasi yang saya miliki. sisa waktu malam saya gunakan untuk membeli oleh-oleh setelah dua hari acara berburu membandingkan harga di setiap sudut penjual kenang2n ini. kembali ke kamar pun, ketiga teman kamar saya tengah bersiap packing karena penerbangan mereka esok pun, hanya berselisih hitungan menit dengan saya.

Kembali
begitu alarm pagi berbunyi, saya bersegera bangun kemudian mandi dan bersiap sarapan dan check out. masih cukup waktu hingga penerbangan saya ke Seattle, namun mengingat sistem kereta disini dan pengecekan bandara yang cukup ketat kemarin, saya mengurangi resiko terlambat dengan berangkat jauh lebih awal dan dengan tujuan bisa agak santai. benar saja, kereta ke bandara lumayan jarang, ditambah oper ke terminal tujuan yang membutuhkan waktu tunggu sehingga saya pun tetap dalam kondisi tergesa2 ketika pengecekan security kembali menimbulkan antrian. pun, akhirnya saya in time boarding, meski dengan status the last passenger. dan sialnya, saat ready taxi, pesawat pun delay sekitar 20menitan, yang artinya nanti di Seattle saya hanya punya sisa 10 menit untuk pindah pesawat, waduh.
pilot pesawat dari San Fransisco memotong waktu perjalanan 5 menit lebih cepat, yang harus saya manfaatkan sebaik mungkin. ternyata, beberapa penumpang lain juga segera berlarian begitu menginjakkan kaki di Seattle, rupanya senasib. alhamdulilah, meski sempat diomeli pramugari tua yang sepertinya sedari tadi mencari-cari penumpangnya, akhirnya saya bisa terduduk di kursi pesawat ke Narita, dan begitu klik sabuk pengaman, pesawat langsung taxi. dalam perjalanan pulang ini, barulah saya sadar setelah menonton dokumenter tentang Silicon Valley San Fransisco. pantesan kemarin liat ada plangnya @twitter gede, ahahaha, dan infonya juga kemarin pak Jokowi juga kuker kesana. 
entah kapan lagi bisa ke Amerika, namun cukuplah perjalanan ini berkesan, selain gratis dan saya-nya pun tidak lebih dari untul-munyuk, namanya rejeki dari ALLAH, wajiblah kita bersyukur, alhamdulilah.

Tuesday, March 08, 2016

Menjejakkan kaki di benua Amerika (I)

Persiapan


Mungkin kisah yang paling tepat sebagai ibarat cerita ini adalah film Inception-nya DiCaprio, bermimpi di dalam mimpi, namun versi saya ini adalah kenyataan. Jika dirunut dari awal, seperti hal yang mustahil, ketika setahunan lalu, saat dosen pembimbing saya menyampaikan rencananya untuk mengikutkan saya dalam konferensi tahunan di Amerika Serikat terkait research. Waktu itu saya hanya mengiyakan saja, tanpa ada pikiran lebih jauh akan bagaimana dan seperti apa hingga tiba saatnya untuk registrasi dan mulai serius menggarap materi yang akan disampaikan saat konferensi. Ada sedikit keraguan, bahkan ketika aplikasi saya dinyatakan diterima, bahkan surat undangan sebagai bukti tambahan untuk aplikasi visa pun sudah ditangan, mengingat tidak sedikit rekan seprofesi yang ditolak visa-nya meskipun resmi menerima undangan dari pemerintah Amerika. Namun alhamdulilah, visa dengan mudah diperoleh, tiket pesawat pun didapat dengan harga bersahabat, serta referensi penginapan yang masih on budget sebagai mahasiswa.

Perjalanan
Rute kampus ke Narita cukup melelahkan dengan waktu lebih dari 2 jam perjalanan kereta. Hujan, bahkan pada saat boarding akhirnya bersalju, cukup membuat keder, mengingat saya sengaja hanya membawa pakaian seadanya karena San Fransisco seharusnya sudah hangat. Perjalanan pesawat entah berapa jam, karena saya terlampau katrok untuk berhitung perbedaan waktu, yang juga menggagalkan upaya saya untuk tidur di pesawat. Imigrasi Amerika lewat tanpa ada kenangan berarti, namun scanning penumpang di Seattle cukuplah berkesan. Lepas sabuk dan sepatu, bahkan laptop anda pun akan memperoleh perlakuan khusus jika tidak dipisahkan saat scanning. Selebihnya, kepala saya mulai lelah, mungkin akumulasi perbedaan waktu dengan kurangnya jam tidur saat itu, sehingga penerbangan Seattle – San Fransisco pun jadi selintas lalu.
Tiba di San Fransisco, mulailah culture shock. Dari mahalnya tiket kereta dari bandara ke pusat kota, termasuk kondisi subway yang tidak senyaman di Jepang, hingga minimnya petunjuk bagi pengunjung asing. Turun dari kereta langsung maklum dengan kebersihan stasiun plus gelandangan yang bergelimpangan di luar stasiun. Amerika rashii, seperti yang di film-film.
Masuk ho(s)tel pun kembali harus maklum. Dengan harga segitu, ya serba minimalis, meski tidak menyangka juga dengan begitu banyaknya ge(landangan) peng(emis) di sekitar area hostel. Setelah setting barang dan menemukan kamar mandi, meski mata ngantuk berat, namun saying jika sudah sampai Amerika cuma kalah sama jetlag. Sore itu juga, langsung jajal kaki muter sekeliling penginapan untuk cari tempat makan, lokasi took oleh-oleh, dan yang terpenting, orientasi harga barang. Hari pertama berakhir dengan kesimpulan, harga makanan lebih mahal dari Jepang, susah nemu nasi plus inceran untuk omiyage sudah bisa dikalkulasi.
Hari kedua, War Day
Lokasi konferensi sudah di tracking jauh hari sebelum berangkat, alhamdulilah cukup dekat dari hotel, mengingat harus istirahat sholat dan makan siang. Check in daftar ulang lancar, sambil menunggu waktu paparan, muter area pameran yang memang luas buanget. Dan berbeda dengan konferensi pertama di Nagoya tahun lalu, selain exhibitor jumlahnya banyak, mereka juga tidak pelit kasih souvenir, yah minimal klo mau keliling, bisa jadi supplier bolpen, hahaha. Tidak terasa kaki mulai gempor saking antusiasnya hunting souvenir, hingga selepas makan siang terpaksa charging (baca: tidur) sebentar sambil menunggu waktu ashar.

Tiba saatnya kerja, setelah poster sudah digelar sedari pagi. Ternyata sensei sudah duluan di TKP, dan hingga akhir acara tetap standby di sekitaran, sepertinya puas saya tidak melambaikan tanda butuh bantuan menjawab pertanyaan pemirsa yang tertarik dengan “dagangan” saya. Alhamdulilah, paparan lancar. Niatnya mau memanjakan diri dengan makan di restoran layaknya adegan penutup MIB III, namun dompet ini tak rela hanya untuk seporsi makanan seharga US $15 belum minumnya, ah, malam ini pun menu pahe lagi.

Tuesday, October 06, 2015

jejak 1 semester

tidak terasa, or memang sudah tidak dirasakan, hehehe

seperti biasa, waktu berlalu dengan cepatnya jika kita mau menilik kebelakang. beberapa hari lalu, sudah kali ke enam saya menyobek kalender yang tertempel di loker, menandakan genap satu semester saya berada disini. sesuai kalender pendidikan, minggu ini adalah minggu yang berat bagi para cadet dan mahasiswa, karena dijadwalkan pelaksanaan ujian akhir semester. namun, hampir seluruh materi kuliah S2 apalagi S3, tidak diadakan ujian "konvensional" tertulis, tapi dalam bentuk penugasan, dan beberapa diantaranya sudah wajib dikumpulkan sebelum musim ujian ini, seperti yang saya alami.
Image result for passport service indonesian
namun kali ini saya lebih ingin berkilas balik, atas apa yang terjadi selama 6 bulan ke belakang. diawali dengan kegembiraan dan suka cita, bahwa kesempatan belajar yang saya mimpikan sejak 10 tahun lalu akhirnya sudah tiba di depan mata. tetapi, sontak kegembiraan itu sirna, karena mimpi indah yang saya bayangkan, ternyata memiliki bagian kelam, wiiiih. setibanya di negeri sakura ini, rasa kangen dan berat berpisah dengan keluarga kecil saya begitu kuatnya menggelayuti pikiran. saya sudah pernah dinas beda kota yang memungkinkan hanya seminggu sekali bertemu mereka, namun kali ini, dengan jarak yang begitu jauh, serta beban tambahan yang harus dipikul istri saya, sempat memunculkan beberapa episode perang bathin untuk memompa semangat belajar saya.

masalah berikutnya adalah keuangan yang sempat tersendat hingga bulan keempat saya hidup disini. entah karena birokrasi negara tercinta yang memang susah, ataukah yang Maha Kuasa sedang menguji saya (sekalian), sampai akhirnya "cerita" tentang mahasiswa kelaparan juga sempat saya alami. tidak perlulah detail, toh buktinya saya masih sarapan roti plus susu kok. bahkan periode ini juga mendidik saya untuk lebih berhemat dan bertarung dalam mengatur pengeluaran uang, hehehe.
berikutnya, adalah interaksi. dalam mimpi, saya mendapatkan kesempatan untuk reboot skill bahasa Jepang saya, selain karena waktu juga kesempatan berinteraksi langsung dengan native speakernya disini. namun yang ada malah sebaliknya. di lab, saya seorang sendiri, hanya ada seorang professor pembimbing (yang pada awalnya beliau super sibuk dengan jadwalnya sendiri). mata kuliah pun tidak sebanyak saat S1, pun dengan jumlah mahasiswa yang sangat minimalis. di mess lebih parah lagi. hampir semua penghuninya baru akan kembali ke kamar berdekatan dengan waktu pergantian hari. hanya terdengar suara langkah kaki, buka - tutup pintu, END. beruntung, kami "dipaksa" melaksanakan kurve seminggu sekali, kesempatan tunggal untuk "benar2" sekedar mengucap selamat pagi, untuk kemudian lanjut sektor masing2. satu2nya "native speaker" yang setia adalah siaran radio analog dari Zenfone saya yang masih berfungsi normal (saya baru punya TV pada bulan ke empat, setelah beasiswa turun).
klo masalah belajar, lupakan saja, hahaha .. selain materi pembimbing kali ini benar2 beda dari apa yang pernah saya pelajari saat S1 (catat : kedatangan saya yang hampir terlambat berakibat pada ketiadaan kesempatan untuk memilih jurusan, klo tidak boleh dibilang sisa), ternyata pola penelitian pun sangat berlawanan. saya yang awalnya lebih nyaman utak2 software di depan laptop, kemudian dihadapkan pada uji laboratorium dengan segala parameternya, termasuk ke-tidak-langsung-annya akan hasil yang diperoleh. beberapa waktu kemudian, barulah saya menyadari memang dibutuhkan keuletan dan ketekunan juga waktu lebih untuk menemukan pola dari rangkaian uji lab ini.
hmmmm, suram ya, to be continued ya.