Sunday, January 01, 2017

(not) celebrating New Year

1 Januari 2017

sebenarnya tidak ada yang istimewa dari momen tahun baru kali ini, karena memang saya aslinya bukan tipe yang suka ribet ataupun sengaja "turut" merayakan tahun baru, kecuali dua tahun lalu saat dapat perintah dadakan sebagai panitia countdown di kantor. namun tahun ini, karena kondisilah yang memaksa saya "tidak" bisa bertahun baru.

24 Desember lalu, Ibu berpulang ke rahmatullah. beliau sudah sakit mungkin sejak tahun lalu, namun baru benar2 drop dari akhir bulan Ramadhan lalu hingga kami pun terpaksa menyambut Idul Fitri di ruang rawat inap rumah sakit. mungkin ini rencana terbaik dari Allah, juga kami tidak tega melihat penderitaan beliau yang terus merasa kesakitan diatas tempat tidur.

dan pagi ini, ibu asuh saya di Jepang, mengirimkan email kesekian kalinya sembari untuk sekedar menanyakan kabar saya setelah meninggalnya Ibu, sekaligus mengingatkan, bahwa saya tidak dapat bertahun baru menurut budaya Jepang, karena ada anggota keluarga yang berpulang di tahun sebelumnya.

innalillahi wa inna illaihi rojiun

Tuesday, November 08, 2016

batas menyerah hanya diujung waktu

   berawal dari bongkar2 barang buat persiapan dibawa pulkamp, akhirnya nemu tas pinggang spesial buat lari ini dalam kondisi terkunci. kok?? iya, seingatnya, sudah lebih setahun menganggur sejak ganti smartphone yang ukurannya diluar batas muat, jadi terpaksa ditinggal tanpa sadar petaka yang muncul berikutnya.
   bagian slider resleting macet di penghujung posisi tutup. dan inilah petaka tadi, rupanya molekul garam dalam keringat saya sudah sedemikian mengendapnya hingga mampu meninggalkan jejak karat berwarna biru pada hampir seluruh bagian slider tadi. otomatis, untuk menekuk pengait saja susah, apalagi untuk menggeser posisi. perkiraan awal, dengan sekali semprot rust remover or cleaner komersil seperti WD40, akan mampu mengatasi masalah ini, sebagaimana saat dongkrak mobil macet maupun tuas lampu sein agak rewel beberapa waktu lalu. semprotan pertama, sukses membebaskan gerak pengaitnya, meski karat biru masih nampak jelas saat cairan semprot mengering. dua, tiga, hingga lima kali semprot, slider masih tak bergeming, duh apa yang salah??
   hasil gogling, ternyata permasalahan serupa cukup banyak dialami, terutama oleh nelayan pada tas kerja mereka. eh, nelayan? yup, nelayan yang rajin sharing pengalaman mereka di internet, sebagai most user yang tiap hari hidup diatas evaporasi air laut. berbagai analisa maupun tips dan trik dari level biasa hingga ekstrim pun lumayan dibeberkan, dan untuk kasus saya pun sudah mendekati tingkat menengah advance, hahaha. ini karena status slider yang sudah berkarat, namun karena relnya terbuat dari plastik, otomatis tidak cukup dengan hanya mengandalkan jenis rust remover yang memang terkhusus untuk logam. lalu bagaimana dong?
   ada opsi dengan vinegar (cuka) atau coca-cola. keduanya dipercaya mampu mengikis karat dengan merendam setidaknya semalaman (seringkali lebih). saya pun lebih nyaman memilih coca cola, selain mudah didapat, toh efek bau yang ditinggalkan tidak akan terlalu parah dibanding dengan jenis cuka, yang di Jepang ini pun juga sangat banyak jenis dan komposisinya. coca-cola pun, dipilih yang standar (bukan yang zero cal or varian lainnya) karena dari beberapa video life hack di youtube, jenis ini yang paling powerfull, hehehe, dan sisanya bisa diminum. 
   alhasil, memang benar cairan ini sakti. karat biru hilang, berganti dengan karat normal coklat kehitaman, bahkan setelah dicuci dengan air bersih. namun masalah utama masih seperti sediakala, slider masih keukeuh di tempat. hadooooh. gogling lagi, ada solusi yang mencontohkan dengan merendam dalam cairan sabun dan air panas, hmmm. teorinya, karena kain dan rel dari plastik basah, maka gaya tarik akan semakin kuat sehingga akan bertambah sulit dibuka, masuk akal sih. pun, semprotan rust remover berbasis silikon juga sudah terbukti sukses, entah level berapa itu, hehehe. oke deh, air panas, sabun cair, aduk dan rendam lagi.
sukses? belum juga rupanya. 
   masih belum ada ancang2 si slider mau beranjak dari tempatnya. sebenarnya masih terpikir 3 opsi lagi, yaitu congkel rel dengan jarum layaknya maling koper bandara yang mencongkel tas penumpang dengan bolpen; nunggu weekend beli semprotan silicon-based; or alternatif terakhir banget, bongkar resleting meski kurang yakin juga apa bisa mengingat jahitan dari adidas cukup rapi dan rapet. nah, di penghujung menyerah karena sikon tadi, sambil komat kamit, si tas mungil dibilas air dingin setelah seharian berendam air sabun, dan, sreeeeet, eh, yess!! 
   alhamdulilah, slider seketika mau diajak kompromi dan berfungsi normal seperti sediakala. meski bekas korosi masih nampak jelas, terutama di kain sekitar rel yang macet, namun masalah sudah SOLVED. entah teori mana yang berhasil jadi kunci, namun yang jelas, dengan adanya bukti serbuk keputihan menempel di sekitar rel, jelaslah kejadian saling-gigit sehingga saat itu slider enggan menjalankan tugasnya. 

begitulah, penting ndak penting, semoga bermanfaat. 


Tuesday, October 25, 2016

melewat( -kan/ -i) semester 3

   secara teatrikal, semester 3 memang baru dimulai saat siswa tahun ajaran baru dilantik secara resmi, bahkan sebenarnya, mereka baru mulai masuk kuliah 10 hari setelahnya karena ada kegiatan orientasi. namun, bagi saya, mungkin batas awal ini sudah dimulai lebih dini, yaitu sejak para adik asuh di lab selesai paparan tugas akhir mereka, dan salah satu keluarga dekat saya kembali ke Indonesia karena masa tugasnya disini sudah selesai. 
   seperti yang digembor2kan para senior dan rekan sejawat yang sudah menempuh program ini, bahwa di semester ini kegiatan secara terprogram di perkuliahan hampir tidak ada, kesemuanya sudah diserahkan kepada kebijakan lab masing2, dan itu sudah saya alami sejak awal tahun lalu, hahaha. intinya, mahasiswa diberikan kebebasan sepenuhnya untuk konsen pada materi research masing2, bersyukurlah mereka yang kelimpungan kurang data di tahun sebelumnya. saya pun akhirnya merasa agak sedikit terbebas, karena dengan tidak adanya kewajiban hadir di kelas, pengaturan jam ekperimen lebih leluasa dan bertambah, apalagi hingga akhir summer nanti, insya allah tidak ada jadwal seminar, yang tentu saja sangat memakan waktu untuk persiapannya (baca : umek).
   kegiatan mengalir, meski rutinitas mengasuh taruna S1 masih berulang, setidaknya dengan kehadiran junior M1 (mahasiswa program master tahun pertama) lumayan bisa membantu mengurangi keumekan meski ternyata si M1 akhirnya juga divonis butuh pengasuhan lebih oleh sensei, hahaha. untunglah ada Ramadhan, setidaknya saya bisa mengerem untuk tidak terlampau berlarut dalam euforia ke"santai"an (kesibukan) di semester ini. saya bersyukur diingatkan akan keberlarutan ritual slow going, yang didukung dengan hasil experimen yang cukup lumayan. 
   hingga akhirnya tiba masa untuk menutup semester dengan kesibukan luar biasa, merangkumnya kedalam thesis, meski saya merasa belum layak, namun dari pembimbing sudah sangat mendorong untuk segera diselesaikan, jadilah busy ending. 

well, keep fight

Sunday, October 09, 2016

Mimpi buruk (kembali) terulang

19 September 2016
sebenarnya tidak ada hal spesial hari ini, selain kalender yang bertepatan dengan libur nasional Jepang, namun berhubung tidak ada acara spesial, ya saya tetap meniatkan untuk berpuasa Senin-Kamis seperti biasa, hingga akhirnya tiba saatnya berbuka puasa. menu seperti biasa, diawali teh hangat dan pisang, sembari menunggu nasi yang baru matang supaya agak sedikit dingin, saya menunaikan shalat Maghrib di kamar mess. tidak ada yang spesial hingga buka puasa selesai dengan porsi yang lebih banyak ketimbang jatah makan malam di hari biasa, hingga saya kembali duduk menonton TV setelah berwudhu sambil menunggu adzan Isya berkumandang dari aplikasi di hape.
sesaat adzan selesai, saya segera berdiri di atas sajadah untuk shalat Isya. namun begitu tangan bersedekap di depan dada, mendadak pandangan berkunang-kunang. saya tidak ingat apa yang terjadi kemudian, sempat samar saya ruku', itidal hingga akan sujud, namun sekejap saya mendapati tubuh tergeletak kesebelah kiri sajadah, yang untungnya sudah dialasi plastik EVA, hingga (sepertinya) benturan ke kepala hanya meninggalkan sedikit benjol. (tiga hari kemudian saya baru menyadari ada bagian bibir yang juga terluka karena terbentur gigi dan berubah jadi sariawan). 
sambil bingung, saya hanya melafalkan astagfirullah berulang kali, sambil berusaha merekonstruksi memori beberapa saat lalu yang hanya samar, sembari berpikir keras apa yang terjadi. adakah sakit di dada ini? entah, semua perasaan menjadi kalut dan bingung. setelah beberapa saat, akhirnya saya mampu duduk bersandar tempat tidur, sambil melihat jam, kiranya ada sekitar lima menit waktu yang "hilang" dalam ketidaksadaran tadi (mungkin). mungkinkah saya terkena serangan jantung? tersadar kembali dengan sendirinya, sama seperti kejadian hampir setahun lalu, namun bedanya, saat itu saya baru saja selesai jogging di pagi hari, ketika tiba2 pandangan mengabur, dan sejurus kemudian mendapati tubuh sudah diatas rumput (alhamdulilah bukan di aspal), meski bibir dan kulit dekat mata mengalami luka berdarah meski tidak serius. 
keesokan harinya saya segera berkonsultasi dengan poliklinik kampus, yang kebetulan, siang harinya ada jadwal praktek dokter spesialis penyakit dalam (jantung) yang oleh beliau, meski tidak ada kecenderungan akan penyakit tertentu, namun demi kebaikan bersama, saya dirujuk untuk check-up lengkap di RS tentara terdekat. serangkaian medical check-up secara berantai segera dilakukan, mulai dari periksa lab darah, urine, ECG, USG jantung, tes di treadmill, hingga pemasangan alat monitor jantung selama 24 jam. hasilnya, meski ada saat ritme jantung tidak normal (terutama setelah beraktifitas berat) namun dokter mengatakan bukanlah penyakit ataupun suatu hal yang membutuhkan terapi/pengobatan, dan berakhir dengan kesimpulan saya sehat. alhamdulilah.
saya sempat takut divonis berpenyakit yang berhubungan dengan jantung. 20 tahun lalu, hal ini menjadi salah satu catatan ketika saya (dipaksa) uji treadmill dengan badan dalam kondisi demam tinggi, yang tentunya ritme jadi kacau. riwayat keluarga memang tidak ada yang meninggal karena sakit jantung, ataupun jikalau (memang) ada, harap maklum kami bukanlah tipe yang dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan mudah karena kondisi ekonomi. entahlah, sejak kejadian melarikan diri ke IGD setelah acara lari dan makan siang karena sesak di dada dan kesadaran saya berangsur hilang sekitar dua tahun lalu, mimpi buruk ini seakan menjadi acara rutin tahunan yang cukup menghantui. bahkan ketika saya berusaha memperkuat jantung dengan memperbanyak porsi latihan lari, hal ini masih saja berulang meski tidak bisa dikatakan penyebab utamanya. 

bismillah, 

Friday, September 16, 2016

move on : catatan the 77th JSAP Autumn Meeting 2016

ada kalanya kesuksesan akan membenamkan kita dalam euforia kegembiraan, dan sebaliknya, kegagalan bertubi-tubi sering menenggelamkan semakin jauh sejumlah potensi yang sebenarnya layak untuk diperjuangkan

#eaaa

bukan berniat menjadi bijak. namun sepertinya perasaan ini yang kali ini cukup tepat menggambarkan suasana hati saya. dua hari lalu, saya berkesempatan untuk yang terakhir kalinya (semoga) dalam status sebagai mahasiswa S2 untuk tampil memaparkan hasil research di hadapan kalangan akademisi dalam even tersebut di judul. ini adalah kali kesekian saya memaparkan materi, yang sebenarnya, tidak terlalu berbeda secara isi jika dibandingkan saat pertama kali saya tampil di even serupa. 
pada kesempatan yang sebelumnya, seringkali saya terjebak dalam siklus simalakama, terutama pada sesi tanya jawab, ketika materi yang saya sampaikan menunjukkan realita berlawanan arah dengan hukum alam. sang penanya pun, setelah saya renungkan lebih jauh, sepertinya lebih menyasar kepada pola pikir saya yang terkesan benar namun kurang mengena pada sasaran. hasil tidak pernah berbohong, apalagi ketika dilengkapi bukti2 yang ada, begitu yang ditekankan professor pembimbing. hanya perlu pendekatan dari sisi pandang berbeda untuk memahami fenomena yang muncul dari hasil penelitian.
dan siklus terjebak itu rupanya berhasil membentuk dinding benteng layaknya sumur air yang semakin dalam semakin menarik untuk digali hingga melupakan bahwa hidup yang sebenarnya ada di permukaan tanah. setiap kali mendekati even seminar, saya selalu dihantui mimpi buruk akan kembalinya suguhan buah simalakama tadi, betapa pun antisipasi sudah dilakukan secara maksimal (menurut saya). namun kali ini, rupanya saya berhasil menyentuh dasar dan tetiba dengan segala situasinya segera dapat memanjat keluar untuk kembali dalam rutinitas di permukaan mengejar garis finish yang sebenarnya.
kejadian berawal saat jadwal paparan diumumkan, dan saya mendapat giliran terakhir pada sesi tersebut, tepat setelah junior lab (M1). eh?? ya, entah bagaimana panitia mengaturnya, dengan terpaksa kami dijadwalkan secara berurutan, yang berarti alur cerita nantinya harus dipersiapkan saling berbeda guna menghindari kebosanan pendengar, meski sebenarnya materi penelitian kami sangatlah mirip, jika tidak boleh dibilang sama. maklum, satu guru satu ilmu. pak dosen pun cukup bingung, namun akhirnya memberikan solusi yang cukup cantik hingga persiapan materi kami dapat tersusun untuk saling menguatkan tanpa ada duplikasi, sambil mewanti-wanti bahwa beliau tidak akan memberi pertolongan di hari H, kecuali terhadap pertanyaan yang menjatuhkan. OK, fair enough.
dan tibalah saatnya, ketika si M1 tampil membawakan materinya. overall, bagus karena sudah digladikan beberapa kali disamping juga tampil dalam bahasa ibunya sendiri, meski ada beberapa selip lidah yang sebenarnya tidak perlu. giliran sesi tanya jawab, pertanyaan mendasar dilontarkan oleh seorang pendengar, yang kiranya cukup mudah untuk segera dijawab. tapi, eh, si M1 mulai muter2 dan mengesankan keraguan dalam upayanya menjawab. pertanyaan kedua, ketiga pun yang saya rasa hanya sepele, gagal dikembalikan dengan baik hingga akhirnya bendera putih dikibarkan oleh pak dosen. 
seumur-umur baru kali ini saya mengalami hal ini. beberapa kesempatan lalu, ada kejadian serupa juga yang dialami peserta lain, namun pak dosen mengatakan bahwa haram hukumnya bagi dia, kecuali tadi, pertanyaan menjatuhkan. dan kali ini pun, pertanyaan yang dilontarkan pun bukan persoalan yang sulit, namun berhasil memaksa beliau untuk kemudian angkat bicara membantu si M1. mental saya sedikit terangkat, setidaknya saya pernah lebih baik dari siswa native di posisi yang sama tahun lalu.
ketika giliran saya tiba, dengan beban membawa nama lab setelah gagal diangkat oleh si M1, saya sebagai M2 harus bisa setidaknya kembali memposisikan dalam titik awal. meski dengan keterbatasan bahasa Jepang, saya berusaha menutupinya dengan gestur maupun cara penyampaian yang friendly kepada pendengar. paparan selesai dan seketika MC mempersilahkan pendengar untuk mengajukan pertanyaan, langsung saya melihat setidaknya ada empat tangan terangkat. satu, OK; kedua, done; ketiga, agak tersendat sedikit namun jawaban saya kiranya mengena sehingga bisa diterima oleh penanya. penanya keempat, lebih mengarah ke konfirmasi ulang pada materi saya, meski akhirnya dia memberikan beberapa saran dari view yang berbeda untuk dijadikan masukan penelitian berikutnya. 
dan rupanya saya terlalu fokus, hingga tidak menyadari bel akhir sesi berbunyi saat orang keempat memulai pertanyaannya. DONE? belum. setelah MC secara resmi menutup acara dan saya pun beranjak dari podium ketika seorang yang mengaku dosen mendekati saya lalu bertanya terkait materi saya. eh, ini yang kelima? saya berusaha menjawab sesuai dengan dasar dan hasil yang saya miliki, hingga beliau pun sepertinya cukup puas dengan jawaban saya kemudian berterimakasih sambil membungkuk khas orang Jepang. setelahnya, pak MC pun, yang ternyata seorang professor sekaligus dosen, menarik tangan saya untuk kembali ke podium dan membuka diskusi kecil yang intinya beliau mengapresiasi pemaparan saya sambil memberi PR untuk dijawab pada gelaran seminar berikutnya di bulan Maret mendatang.
alhamdulilah, akhirnya pun pak dosen pembimbing mengangkat jempolnya yang tanpa saya sadari sedari awal memperhatikan sesi tambahan dadakan tadi. cukuplah saya menyudahi keterpurukan di masa lampau sekaligus membawa semangat baru guna menyelesaikan the next Impossible Mission : susun thesis.

Sunday, August 28, 2016

mendaki gunung Fuji (lagi)

saat ditawari kali pertama bergabung bersama keluarga bapak Athan untuk naik gunung Fuji pada periode libur musim panas, spontan saya menjawab SIAP. yang ada di pikiran saat itu adalah rekreasi menikmati pemandangan dan sejuknya pegunungan di tengah musim panas yang menyengat, apalagi selama ini saya selalu single fighter menjelajah area yang belum terjangkau satu dekade silam. pun, kenangan latihan militer mendaki Fuji belasan tahun lalu, yang hanya berbekas adalah saat turun gunung dengan berlari sprint, cukuplah menambah percaya diri bahwa saya mampu bahkan phisically saat ini (merasa) lebih kuat dari saat itu.
tapi, ketika bapak menjelaskan rencananya untuk melihat matahari terbit di atas puncak, eh, eh tunggu dulu. sejurus kemudian, jadwal pun disesuaikan dengan kesibukan kantor, hingga jatuhlah pilihan pada hari terakhir libur musim panas, yang langsung memangkas jumlah peserta sekaligus "mencekik" jadwal kegiatan saya (lihat posting sebelumnya). waduh, spontan rasa ragu muncul, hingga detik2 keberangkatan pun, persiapan saya "seadanya" dan cenderung PEDE sajalah, hehehe, toh masih bisa sabar seperti biasanya.

perjalanan hingga step 5 (start) berjalan lancar meski sempat salah sasaran parkir area (gegara manut GPS ala japanese, beda tipis antara park dan parking area, untung gak terlalu jauh, dan sepertinya juga sudah banyak pendaki bernasib serupa). carbo loading dan toilet sudah diselesaikan, saatnya menyalakan senter untuk memulai perjalanan, ketika cuaca tiba2 berubah menjadi gerimis mengundang. baguuuus. dua hal yang saya kurang suka dari perjalanan malam adalah gelap dan hujan. mata saya sudah divonis silindris, yang artinya lebih sedikit cahaya yang bisa saya tangkap di malam hari -> mengurangi konsentrasi; dan saat hujan, pilih basah atau bermantel yang artinya siap umek dengan keringetan maupun gerakan anggota tubuh jadi terbatas -> lagi2 mengurangi konsentrasi. 

sampai step 6, tidak ada kendala berarti kecuali gerimis yang timbul tenggelam. banyaknya pendaki lain membuat perjalanan tidak terasa sepi meski lumayan gelap karena awan. rehat sebentar, tim lanjut ke step 7, dan saya mulai sadar ada yang aneh. dulu, memang tidak ada keterangan step berapa, karena statusnya latihan militer, sesuai perintah naik sampai puncak, jika ada perintah istirahat barulah melipir sebentar. namun kali ini, pemandangan malam yang saya coba visualisasikan kondisi siangnya, tidaklah ada sedikitpun dalam memori saya. sedemikian pesatkah pembangunan jalur pendakian ini dalam kurun kurang dari 15 tahun? sisi gunung di tutup rapi jaring kawat dan tanggul tinggi seperti kontruksi tanggul lumpur lapindo di sidoarjo, menyisir sepanjang jalan zigzag hingga penginapan pertama. eh, penginapan?
ya, sejak step 7, banyak penginapan gunung untuk mereka yang ingin rehat maupun menginap guna melanjutkan perjalanan sesuai jadwal masing2. inipun tidak ada di memori saya, jalan sempit di depan penginapan serta beberapa toilet darurat berbayar (JPY 300). saya sempat semakin yakin, kala itu saya dalam mode zombie, jadi tidak ingat apapun tentang rute, ketika jalan terjal menanti untuk mencapai step 8. benar2 terjal, karena hanya batu menempel di dinding gunung, meski antar pijakan hanya seukuran anak tangga, namun dengan jarak dan kemiringan yang lumayan membuat para pendaki di sekitaran saya ngos2n (saya sih enggak, alhamdulilah). niatan untuk sunrise di puncak sepertinya meleset, kami baru berhasil melihat titik MAIN 8 pas saat adzan shubuh berkumandang. tidak apa, sepanjang malam selepas step 7, langit berubah cerah dengan posisi bulan setengah menerangi perjalanan kami. panorama fajar pun berhasil diabadikan dengan keindahan yang luar biasa dari lereng Fuji.
jam 8 pagi, tepat 12 jam pendakian, akhirnya kami menyentuh puncak di level 10. mentari sudah mulai terik, meski kabut juga bertiup membawa angin sejuk yang meragukan antara batas panas dan dingin bagi tubuh. sejam istirahat, kami pun bergegas menunaikan kewajiban kekinian, yaitu foto kenangan di puncak. rupanya bapak Athan sedemikian bertekad untuk mengibarkan sang Merah Putih di puncak tertinggi mantan negara penjajah ini, hingga tak terasa sesi jepret2 ini berlangsung hampir sejam, hehehe. pukul 10 pagi kami mulai menyusuri jalur khusus turun, yang sepertinya lebih ramah, meski saya masih punya kenangan buruk pernah "dilarikan" di rute ini. target ke titik awal sebelum dhuhur, kembali meleset karena rute turun ini lumayan melambung, ditambah kondisi jalan yang berbatu halus; salah sikap badan or kecepatan turun, ya silahkan pilih pose tengkurap or terkapar untuk posisi terpeleset anda, hehehe.
singkat cerita, kami berhasil mendahului matahari untuk menyentuh dasar gunung. capek, pegal, bau dan kelaparan sempat melanda, dan rupanya belum selesai disitu petualangan kali ini. ada 100 km lagi yang harus kami tempuh untuk kembali ke Tokyo, dan navigasi jalan menunjukkan warna merah sepanjang rute balik ke ibukota, suasana khas minggu malam. saya? masih ada 1,5 jam lagi perjalanan kereta plus 20 menit tanjakan ke kampus dengan ancaman hujan angin akibat taifun serta agenda rutin senin pagi, laporan mingguan research.

indahnya hidup ini, FIGHT. 
(berasa jadi David Banner, saat muncul mendatangi tim Avenger dengan sepeda motor butut).


Tuesday, August 23, 2016

(tidak) Libur Musim Panas

"kamu libur juga kan?"

begitulah kira2 pertanyaan setiap orang ketika gelombang libur musim panas sudah dimulai. dan errrrm, gimana ya. secara de facto, memang tidak ada kegiatan kuliah pada bulan Juli hingga pekan ke tiga Agustus, plus untuk taruna/undergraduate program, mereka memang mendapat alokasi libur tersebut sebagaimana saya dulu di posisi yang sama. namun untuk S2 dan S3, dikarenakan status sebagai pegawai negeri, otomatis ya nothing special. meski tidak ada kegiatan kuliah, waktu 8 minggu tersebut dijadwalkan "ngantor" seperti biasa, namun kegiatan diserahkan sepenuhnya pada lab masing2. mungkin, beberapa akan mengambil cuti seperlunya pada hari2 sekitar Obon (14 Agustus), pun juga akan mengurangi jatah cuti tahunan mereka.

karena alasan itu pulalah, secara kebetulan rangkaian kesibukan 17an Agustus tahun ini juga jatuh pada hari yang kurang pas, jadilah cerita wira-wiri pada tanggal belasan dengan rute Yokosuka-Tokyo pp dan diakhiri naik Gunung Fuji menjadi pelengkap linu2 di sekujur tubuh.

sampai dengan 10 Agustus (Rabu), hari2 normal lancar apalagi sensei juga kebetulan sudah cuti dari awal minggu, jadi rada slow pace.

11 Agustus, meski kalendernya merah (Hari Gunung) namun demi mengganti besok buat Jumatan, maka hari ini pun standby di lab untuk cicil tugas. setelah Isya meluncur ke Tokyo sambil angkut perlengkapan upacara.

12 Agustus, niat awal hanya sholat Jumat di Meguro, namun karena ada request untuk bantu persiapan upacara, well, sepagian melipir KBRI. sorenya balik Yokosuka

13-14 Agustus, lanjut persiapan seminar sambil berpusing nyicil thesis. Minggu malam, berangkat lagi ke Tokyo.

15 Agt, gladi upacara 17an lanjut siang dan malamnya pengukuhan anggota Paskibraka Tokyo. malam itu juga kembali ke Yokosuka lagi.

16 Agt, ngantor as usual, kebetulan hari ini sensei baru masuk lagi, jadi deh ramah tamah laporan perkembangan research, plus persiapan seminar. malam harinya, sambil berhujan2 berangkat ke Tokyo lagi.

17 Agt, puncak perayaan HUT RI ke 71, alhamdulilah cuaca sangat2 mendukung, setelah hempasan taifun kemarin yang sempat menciutkan nyali. setelah Upacara Penurunan Bendera dan makan malam, langsung kembali ke Yokosuka.

18 Agt, sesuai janji dan rencana, hari ini gladi paparan untuk seminar. beberapa persiapan yang sudah dicicil sedikit banyak dimentahkan dari sensei, hingga akhirnya latihan pun dilaksanakan mandiri, dengan kondisi badan juga mulai bergetar karena kurang istirahat.

19 Agt, meski hari Jumat, namun kali ini jadwal tidak memungkinkan untuk bergabung jamaah Jumat. seminar start jam 11.30, dan untunglah dapat kesempatan paparan pertama kali hingga sisa waktu setelahnya bisa rada santai menikmati sajian materi dari orang lain. kegiatan selesai jam 8 malam, langsung merapat ke Tokyo (untuk yang kesekian kalinya).

20 Agt, kurang tidur?? jelas sekali. namun apa daya, kegiatan berikut sudah menanti. meski terbersit keinginan untuk mundur, tapi kapan lagi bisa dapat kesempatan naik Gunung Fuji? sendirian bisa sih, tapi ... (sudah bosan seorang diri kesana kemari).

21 Agt, daaan begitulah, sepanjang perjalanan hingga naik turun Fuji, hanya berhasil merem ditengah terik mentari pagi selama 1 jam. tepat pukul 11 malam, kembali dengan selamat ke Tokyo. sudah tidak mungkin mengejar kereta untuk ke Yokosuka. artinya, 4 jam lagi harus sudah berangkat lagi ke stasiun Komazawa Daigaku supaya tidak telat weekly briefing. dan taifu no 9 sudah bersiap mendarat di daerah Kanto, duh 

Monday, August 08, 2016

jungkir balik di semester 2

sangat - sangat terlambat sekali jika baru sekarang disempatkan untuk menulis kilas balik semester 2. namun memang begitulah, kesibukan satu persatu silih berganti mewarnai perjalanan selama 6 bulan tersebut (ummm, 4 bulan lebih sedikit tepatnya, eh??)
memang secara kalenderis, semester 2 dirasa lebih pendek dan memang lebih pendek karena adanya libur akhir tahun kalender dan tahun ajaran. ditambah lagi kegiatan seabrek, terkait secara langsung seperti gelaran seminar research, maupun kegiatan ulang tahun kampus yang otomatis menyita jatah waktu kegiatan belajar mengajar. meski secara resmi jumlah mata kuliah yang diambil sudah lebih sedikit daripada semester satu lalu, namun konsekuensinya berimbas pada sekian kali seminar yang dengan terpaksanya ikut sesuai arahan dari proffesor pembimbing. 
sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mensyaratkan jumlah minimal seminar/konferensi yang harus diikuti demi kelulusan program master ini. namun, menganut tradisi di lab, dan pola pembinaan sensei yang memang sepertinya semangat sekali dengan show off force, jadilah saya kebagian bertubi-tubi pontang panting kesana kemari menenteng gulungan poster sembari menjinjing laptop dan menebar pesona kartu nama di setiap kesempatan acara seminar yang saya datangi. total 7 seminar dalam kurun 6 minggu di akhir semester yang berhasil saya catatkan, ditambah 1 sebelum pergantian tahun baru plus 2 lagi diwakilkan sensei karena keterbatasan anggaran untuk perjalanan ke tempat seminar. padahal ya, yang dipaparkan ya itu-itu saja. yang diceritakan juga itu lagi itu lagi, namun kesempatan dan ilmu yang didapat memang hampir selalu berbeda.
dari sekian kali seminar itu, akhirnya saya menyadari bahwa materi yang saya bawakan selama ini memang agak unik, begitu juga pendapat dari beberapa dosen yang berkesempatan diskusi dengan saya. terlepas dari ide sensei saya yang memang terkadang liar, namun sebenarnya hal ini menjadi keuntungan, dimana lahan yang saya teliti masih sangat luas dan hampir tidak ada pemain lain di sekitar saya. susahnya, sangat sedikit referensi yang bisa saya jumpai, kalaupun ada hampir bisa dipastikan hanya secuil dan terkadang diragukan keterkaitannya. TETAPI, ada satu poin besar yang kemudian menjadi pegangan saya dalam menempuh rutinitas sebagai mahasiswa master, yaitu tidaklah penting seberapa dalam ilmu yang saya ketahui tentang materi penelitian, karena memang 2 tahun dalam suatu bidang ilmu hanyalah seperti setetes air di kolam renang standar internasional, hahaha. kunci lulus dari status mahasiswa adalah pola pikir, sesuai strata yang akan ditempuh. tugas utama sensei hanya membimbing sang mahasiswa agar memliki kompetensi setelah melewati mata kuliah maupun uji lab. tidak jarang mahasiswa yang lebih pintar dalam berhitung namun kurang jeli dalam berkreasi menciptakan materi uji lab, sehingga teorinya bisa dimentahkan seketika saat ujian akhir. POLA PIKIR yang terpenting, untuk kemudian diisi dengan pengetahuan yang sesuai dengan bidang yang sedang diteliti. 
begitulah kurang lebih. sebenarnya masih ada kisah adu mulut terkait pembinaan mahasiswa S1/taruna, namun demi kebaikan bersama, alangkah indahnya jika percekcokan itu cukup dimunculkan sebagai teaser saja untuk dikenang kemudian.