Wednesday, March 09, 2016

Menjejakkan kaki di benua Amerika (II)

Hari kedua
waktunya menikmati hidup, hehe setelah malam sebelumnya sensei sudah memberikan ijin unofficial untuk sekedar berkeliling kota. sesuai rencana, pagi diniatkan untuk menghadiri konferensi sambil hunting souvenir, siangnya baru lanjut wisata. namun apa daya, cuaca tidaklah mendukung, hingga akhirnya diputuskan untuk merogoh bekal demi membeli payung, ah, padahal sudah antisipasi dengan melihat prakiraan cuaca, tapi tetap saja sore itu hujan badai telah menanti. 
capek memang tidak bisa dilawan ketika jam biologis tubuh mengisyaratkan untuk istirahat, sekental apapun kopinya, tidak pernah bisa melawan sedetik dengan terlelap. yup, bahkan ketika mendengarkan paparan orang lain pun, mata sekejap tertutup hingga terbangun oleh tepuk tangan hadirin tanda selesai paparan. ah, dasar siswa.
setelah sholat dan makan siang plus tidur sebentar, saya memberanikan diri untuk menapakkan kaki sesuai rencana semalam untuk melihat San Fransisco lebih jauh. keinginan untuk naik kereta tram saya buang jauh2, alasan utama karena mahal dan jarak tempuh yang masih bisa dimaklumi dengan kaki. tanjakan sepanjang jalan menuju Chinatown, kembali ke arah Downtown sampai deretan dermaga Pier dengan Bay Bridge terlewati di tengah gerimis tipis. ketika sang surya mulai tenggelam, kembali hujan angin layaknya di wilayah tropis menerpa, tandanya harus kembali menuju penginapan. saya pun menyempatkan mampir kembali ke sesi poster malam itu, mengingat sebenarnya semalam saya malah tak sempat melihat apa yang disajikan orang lain yang senasib dengan saya hehe. 
hujan semakin deras, ketika akhirnya saya memutuskan untuk masuk sebuah mall dan secara tak sengaja menemukan foodcourt ala pusat perbelanjaan di Indonesia, yang artinya lebih banyak pilihan menu untuk makan malam. alhamdulilah, ada sebuah francise masakan Jepang yang menawarkan nasi dan ayam teriyaki, serta dengan harga yang masuk akal. akhirnya, bisa makan nasi.

Hari ketiga
semalam, teman sekamar saya, yang ketiganya adalah mahasiswa dari Korea Selatan menceritakan perjalanan sukses mereka naik bus, menuju area Fisherman Wharf yang katanya ramah bagi pengunjung asing, dilanjutkan rental sepeda melintasi Golden Gate, dan kembali dengan naik kapal ferry. layak untuk dicoba, hanya yang saya risihkan, biaya yang dikeluarkan untuk rute itu jelas melampaui tarif menginap semalam di hostel ini, duh, makanya saya pun putar otak pencet hp untuk cari alternatif murah-cepat-tidak capek untuk sekedar membuat rute jalan ke Golden Gate Bridge serta kembali.
walhasil, setelah sepagian berkelebat di area konferensi, momen setelah makan siang dan sholat tidak boleh dihamburkan sedetik pun. sesuai info Google, saya bisa berkeliling kota selama 90 menit via bus dengan sekali membayar US$2.25. dan alhamdulilah, sopir bis pertama yang saya naiki menuju ke Golden Gate menggratiskan perjalanan saya, setelah memastikan saya seorang visitor untuk wisata. puas berfoto di Golden Gate, saya kembali cek rute bis. kali ini resmi membayar untuk trip 90 menit tadi, dan syukurlah, saya merasa kurang sreg dengan area Fisherman Wharf yang memang sepertinya dikhususkan bagi wisatawan, jadi setelahnya saya langsung cari bis lagi untuk melambung sisi lain San Fransisco. 
90 menit tak berasa sudah berlalu, memang belum ujung ke ujung kota ini saya jejaki, namun cukuplah dengan jika dibanding dengan durasi yang saya miliki. sisa waktu malam saya gunakan untuk membeli oleh-oleh setelah dua hari acara berburu membandingkan harga di setiap sudut penjual kenang2n ini. kembali ke kamar pun, ketiga teman kamar saya tengah bersiap packing karena penerbangan mereka esok pun, hanya berselisih hitungan menit dengan saya.

Kembali
begitu alarm pagi berbunyi, saya bersegera bangun kemudian mandi dan bersiap sarapan dan check out. masih cukup waktu hingga penerbangan saya ke Seattle, namun mengingat sistem kereta disini dan pengecekan bandara yang cukup ketat kemarin, saya mengurangi resiko terlambat dengan berangkat jauh lebih awal dan dengan tujuan bisa agak santai. benar saja, kereta ke bandara lumayan jarang, ditambah oper ke terminal tujuan yang membutuhkan waktu tunggu sehingga saya pun tetap dalam kondisi tergesa2 ketika pengecekan security kembali menimbulkan antrian. pun, akhirnya saya in time boarding, meski dengan status the last passenger. dan sialnya, saat ready taxi, pesawat pun delay sekitar 20menitan, yang artinya nanti di Seattle saya hanya punya sisa 10 menit untuk pindah pesawat, waduh.
pilot pesawat dari San Fransisco memotong waktu perjalanan 5 menit lebih cepat, yang harus saya manfaatkan sebaik mungkin. ternyata, beberapa penumpang lain juga segera berlarian begitu menginjakkan kaki di Seattle, rupanya senasib. alhamdulilah, meski sempat diomeli pramugari tua yang sepertinya sedari tadi mencari-cari penumpangnya, akhirnya saya bisa terduduk di kursi pesawat ke Narita, dan begitu klik sabuk pengaman, pesawat langsung taxi. dalam perjalanan pulang ini, barulah saya sadar setelah menonton dokumenter tentang Silicon Valley San Fransisco. pantesan kemarin liat ada plangnya @twitter gede, ahahaha, dan infonya juga kemarin pak Jokowi juga kuker kesana. 
entah kapan lagi bisa ke Amerika, namun cukuplah perjalanan ini berkesan, selain gratis dan saya-nya pun tidak lebih dari untul-munyuk, namanya rejeki dari ALLAH, wajiblah kita bersyukur, alhamdulilah.

Tuesday, March 08, 2016

Menjejakkan kaki di benua Amerika (I)

Persiapan


Mungkin kisah yang paling tepat sebagai ibarat cerita ini adalah film Inception-nya DiCaprio, bermimpi di dalam mimpi, namun versi saya ini adalah kenyataan. Jika dirunut dari awal, seperti hal yang mustahil, ketika setahunan lalu, saat dosen pembimbing saya menyampaikan rencananya untuk mengikutkan saya dalam konferensi tahunan di Amerika Serikat terkait research. Waktu itu saya hanya mengiyakan saja, tanpa ada pikiran lebih jauh akan bagaimana dan seperti apa hingga tiba saatnya untuk registrasi dan mulai serius menggarap materi yang akan disampaikan saat konferensi. Ada sedikit keraguan, bahkan ketika aplikasi saya dinyatakan diterima, bahkan surat undangan sebagai bukti tambahan untuk aplikasi visa pun sudah ditangan, mengingat tidak sedikit rekan seprofesi yang ditolak visa-nya meskipun resmi menerima undangan dari pemerintah Amerika. Namun alhamdulilah, visa dengan mudah diperoleh, tiket pesawat pun didapat dengan harga bersahabat, serta referensi penginapan yang masih on budget sebagai mahasiswa.

Perjalanan
Rute kampus ke Narita cukup melelahkan dengan waktu lebih dari 2 jam perjalanan kereta. Hujan, bahkan pada saat boarding akhirnya bersalju, cukup membuat keder, mengingat saya sengaja hanya membawa pakaian seadanya karena San Fransisco seharusnya sudah hangat. Perjalanan pesawat entah berapa jam, karena saya terlampau katrok untuk berhitung perbedaan waktu, yang juga menggagalkan upaya saya untuk tidur di pesawat. Imigrasi Amerika lewat tanpa ada kenangan berarti, namun scanning penumpang di Seattle cukuplah berkesan. Lepas sabuk dan sepatu, bahkan laptop anda pun akan memperoleh perlakuan khusus jika tidak dipisahkan saat scanning. Selebihnya, kepala saya mulai lelah, mungkin akumulasi perbedaan waktu dengan kurangnya jam tidur saat itu, sehingga penerbangan Seattle – San Fransisco pun jadi selintas lalu.
Tiba di San Fransisco, mulailah culture shock. Dari mahalnya tiket kereta dari bandara ke pusat kota, termasuk kondisi subway yang tidak senyaman di Jepang, hingga minimnya petunjuk bagi pengunjung asing. Turun dari kereta langsung maklum dengan kebersihan stasiun plus gelandangan yang bergelimpangan di luar stasiun. Amerika rashii, seperti yang di film-film.
Masuk ho(s)tel pun kembali harus maklum. Dengan harga segitu, ya serba minimalis, meski tidak menyangka juga dengan begitu banyaknya ge(landangan) peng(emis) di sekitar area hostel. Setelah setting barang dan menemukan kamar mandi, meski mata ngantuk berat, namun saying jika sudah sampai Amerika cuma kalah sama jetlag. Sore itu juga, langsung jajal kaki muter sekeliling penginapan untuk cari tempat makan, lokasi took oleh-oleh, dan yang terpenting, orientasi harga barang. Hari pertama berakhir dengan kesimpulan, harga makanan lebih mahal dari Jepang, susah nemu nasi plus inceran untuk omiyage sudah bisa dikalkulasi.
Hari kedua, War Day
Lokasi konferensi sudah di tracking jauh hari sebelum berangkat, alhamdulilah cukup dekat dari hotel, mengingat harus istirahat sholat dan makan siang. Check in daftar ulang lancar, sambil menunggu waktu paparan, muter area pameran yang memang luas buanget. Dan berbeda dengan konferensi pertama di Nagoya tahun lalu, selain exhibitor jumlahnya banyak, mereka juga tidak pelit kasih souvenir, yah minimal klo mau keliling, bisa jadi supplier bolpen, hahaha. Tidak terasa kaki mulai gempor saking antusiasnya hunting souvenir, hingga selepas makan siang terpaksa charging (baca: tidur) sebentar sambil menunggu waktu ashar.

Tiba saatnya kerja, setelah poster sudah digelar sedari pagi. Ternyata sensei sudah duluan di TKP, dan hingga akhir acara tetap standby di sekitaran, sepertinya puas saya tidak melambaikan tanda butuh bantuan menjawab pertanyaan pemirsa yang tertarik dengan “dagangan” saya. Alhamdulilah, paparan lancar. Niatnya mau memanjakan diri dengan makan di restoran layaknya adegan penutup MIB III, namun dompet ini tak rela hanya untuk seporsi makanan seharga US $15 belum minumnya, ah, malam ini pun menu pahe lagi.

Tuesday, October 06, 2015

jejak 1 semester

tidak terasa, or memang sudah tidak dirasakan, hehehe

seperti biasa, waktu berlalu dengan cepatnya jika kita mau menilik kebelakang. beberapa hari lalu, sudah kali ke enam saya menyobek kalender yang tertempel di loker, menandakan genap satu semester saya berada disini. sesuai kalender pendidikan, minggu ini adalah minggu yang berat bagi para cadet dan mahasiswa, karena dijadwalkan pelaksanaan ujian akhir semester. namun, hampir seluruh materi kuliah S2 apalagi S3, tidak diadakan ujian "konvensional" tertulis, tapi dalam bentuk penugasan, dan beberapa diantaranya sudah wajib dikumpulkan sebelum musim ujian ini, seperti yang saya alami.
Image result for passport service indonesian
namun kali ini saya lebih ingin berkilas balik, atas apa yang terjadi selama 6 bulan ke belakang. diawali dengan kegembiraan dan suka cita, bahwa kesempatan belajar yang saya mimpikan sejak 10 tahun lalu akhirnya sudah tiba di depan mata. tetapi, sontak kegembiraan itu sirna, karena mimpi indah yang saya bayangkan, ternyata memiliki bagian kelam, wiiiih. setibanya di negeri sakura ini, rasa kangen dan berat berpisah dengan keluarga kecil saya begitu kuatnya menggelayuti pikiran. saya sudah pernah dinas beda kota yang memungkinkan hanya seminggu sekali bertemu mereka, namun kali ini, dengan jarak yang begitu jauh, serta beban tambahan yang harus dipikul istri saya, sempat memunculkan beberapa episode perang bathin untuk memompa semangat belajar saya.

masalah berikutnya adalah keuangan yang sempat tersendat hingga bulan keempat saya hidup disini. entah karena birokrasi negara tercinta yang memang susah, ataukah yang Maha Kuasa sedang menguji saya (sekalian), sampai akhirnya "cerita" tentang mahasiswa kelaparan juga sempat saya alami. tidak perlulah detail, toh buktinya saya masih sarapan roti plus susu kok. bahkan periode ini juga mendidik saya untuk lebih berhemat dan bertarung dalam mengatur pengeluaran uang, hehehe.
berikutnya, adalah interaksi. dalam mimpi, saya mendapatkan kesempatan untuk reboot skill bahasa Jepang saya, selain karena waktu juga kesempatan berinteraksi langsung dengan native speakernya disini. namun yang ada malah sebaliknya. di lab, saya seorang sendiri, hanya ada seorang professor pembimbing (yang pada awalnya beliau super sibuk dengan jadwalnya sendiri). mata kuliah pun tidak sebanyak saat S1, pun dengan jumlah mahasiswa yang sangat minimalis. di mess lebih parah lagi. hampir semua penghuninya baru akan kembali ke kamar berdekatan dengan waktu pergantian hari. hanya terdengar suara langkah kaki, buka - tutup pintu, END. beruntung, kami "dipaksa" melaksanakan kurve seminggu sekali, kesempatan tunggal untuk "benar2" sekedar mengucap selamat pagi, untuk kemudian lanjut sektor masing2. satu2nya "native speaker" yang setia adalah siaran radio analog dari Zenfone saya yang masih berfungsi normal (saya baru punya TV pada bulan ke empat, setelah beasiswa turun).
klo masalah belajar, lupakan saja, hahaha .. selain materi pembimbing kali ini benar2 beda dari apa yang pernah saya pelajari saat S1 (catat : kedatangan saya yang hampir terlambat berakibat pada ketiadaan kesempatan untuk memilih jurusan, klo tidak boleh dibilang sisa), ternyata pola penelitian pun sangat berlawanan. saya yang awalnya lebih nyaman utak2 software di depan laptop, kemudian dihadapkan pada uji laboratorium dengan segala parameternya, termasuk ke-tidak-langsung-annya akan hasil yang diperoleh. beberapa waktu kemudian, barulah saya menyadari memang dibutuhkan keuletan dan ketekunan juga waktu lebih untuk menemukan pola dari rangkaian uji lab ini.
hmmmm, suram ya, to be continued ya. 

Thursday, September 24, 2015

Idul Adha, memoriku

alhamdulilah, tahun ini masih diberikan kesempatan ber-Idul Adha, meski terpisah dari keluarga, namun masih diberi kesempatan untuk menunaikan Shalat Id, pun secuil kegiatan yang digelar oleh KMII Jepang.
suasana kegiatan shalat Id tahun ini, memang relatif lebih sepi, karena bertepatan dengan hari kerja yang merupakan hari pertama setelah rangkaian libur Silver-week, namun tetap saja shalat digelar 2x mengingat beberapa jamaah masih berdatangan dari tempat yang jauh dimana mereka tidak memungkinkan untuk dapat hadir di lokasi meskipun sudah naik kereta paling pagi. belum lagi jamaah yang hanya dapat "ijin" dari instansi-nya hanya beberapa jam, seperti saya, sehingga setelah shalat harus buru kabur dan kembali menuju kampus, meskipun hati ini masih ingin memuaskan telinga mendengar canda tawa dalam bahasa ibu yang membahana di bazaar Indonesia tadi, ah..
yang sedikit berbeda, tidak ada pemotongan hewan kurban disini. KMII memang menyiapkan loket untuk menerima penyaluran kurban dalam bentuk dana, yang nantinya akan diteruskan ke lembaga kurban di tanah air. memang, kondisi disini kurang memungkinkan untuk melaksanakan pemotongan hewan, selain dikarenakan kaum penerima yang juga "kurang pas", juga masyarakat sekitar yang sepertinya belum siap dengan ibadah ini. namun saya cukup gembira melihat lumayan banyaknya dana saluran kurban yang diterima oleh panitia.
yaaah, jika diingat2, duluuuuuuu, ingatan awal saya terhadap kegiatan potong hewan kurban, yaitu pada jaman SD. kebetulan sekolah saya termasuk sekolah "kecil" dengan jumlah murid sekitar 35 siswa/tahun-nya, namun juga bukanlah sekolah eksklusif, malah sebaliknya, tidak sedikit para muridnya yang "menunggak" SPP bulanan saat itu. sehingga dengan segala susah payah, pengumpulan dana dan donatur, memungkinkan sekolah kami untuk berkurban rutin seekor kambing pertahunnya. tentu saja daging kurban diprioritaskan kepada beberapa rekan "penunggak" SPP tadi serta beberapa fakir miskin, sehingga tertanam dalam benak saya, bahwa mereka yang menerima daging kurban tadi adalah kaum dhuafa yang benar2 hanya bisa merasakan makan daging ya pada saat idul adha ini saja.
pada saat SMP, logika tersebut agak berubah. sekolah saya termasuk favorit, dengan banyak anak orang kaya dan tentu saja bebas "penunggak" SPP. disana saya terlibat langsung dalam penyiapan dan penyaluran hewan kurban, dan menjadi kesempatan pertama saya melihat penyembelihan seekor sapi sampai si sapi tersebut masuk dalam plastik kresek dan dibagikan. saya pun menerima sebungkus daging sapi dan kambing, sebagai "imbalan" kepanitiaan saya. ooh, mungkin ini jatah amil.
saat SMA, jumlah hewan yang dikurbankan semakin banyak. beberapa teman saya juga atas nama pribadi menyumbangkan hewan kurbannya, yang merupakan hal baru bagi saya, mengingat kenyataan saat SD tadi. kembali saya menjadi panitia, dan tentu saja jatah amil pun kembali saya terima. kini, masyarakat yang sudah mampu, dengan mudahnya dapat memilih menyalurkan "hewan kurban" melalui beragam metode. beberapa kali ini, saya lebih memilih menyalurkan melalui lembaga, dan tentu saja berupa donasi yang telah ditawarkan. membeli kambing yang dijajakan "demi" Idul Adha masih menyisakan gejolak bagi saya. betapa kegiatan tersebut sudah menjadi industri, dan tentunya adanya tawar-menawar harga yang "fantastis" menjadikan saya khawatir akan mengurangi keikhlasan berkurban. tentu saja, kali ini saya tidak lagi ikut menjadi amil/panitia (picture not related) lagi. tapi, disaat pintu rumah diketuk adik2 dari karang taruna komplek, "Oom, ini dari masjid", setiap tanggal 10 Dzulhijah sore, kembali saya bertanya, ini jatah siapa??

ikhlas, 

Thursday, September 17, 2015

Rantau 1 Muara, nyatat lagi

rupanya tak salah rumor yang menyebutkan, bahwa sequel seringkali berhasil menguatkan kesan cerita sebelumnya, atau bahkan gagal dan malah memperburuk prequel-nya. setelah terkesima dengan Negeri 5 Menara kemudian cemberut karena Ranah 3 Warna, sehingga saya memaksakan untuk meneruskan ke plot terakhir ini.
alur diawali dengan pertanyaan klasik bagi wisudawan, mau kemana setelah kuliah. lapangan kerja mungkin bertebaran, tapi para pencarinya pun lebih banyak. jika hanya bermodal ijazah, belum lagi minat dan kemampuan yang mumpuni, wassalam deh. kisah kemudian mengalir lancar, beserta dinamika sebagai pekerja baru, dengan segala dinamikanya, termasuk romantika cinta yang dikemas tidak terlalu vulgar. cerita di amrik cukup menambah pengetahuan, semoga ada kesempatan tinggal disana juga, hehehe.
happy ending? YA. jalan ceritanya cukup realistis sebagaimana liku-liku hidup manusia pada umumnya. ada kalanya susah-senang, terkadang berjaya di atas namun juga tak jarang terlindas di bawah. pilihan selalu ada dan kitalah yang menentukan pilihan, tentunya dengan bimbingan dan atas petunjukNya. cerita diakhir kiranya meninggalkan bekas mendalam bagi saya, ketika kita sudah menetapkan sebuah keputusan, kemudian tidak jarang datang lagi pilihan yang nampaknya lebih menggiurkan. kesemuanya kembali pada pribadi masing2, saatnya bertanya pada diri sendiri, apa tujuan kita, apa sebenarnya yang kita ingin dan butuhkan. terkadang ego terlalu cepat mengambil posisi di depan mendahului kita dalam memilih, sehingga yang utama sering tersisih. be carefull ya, plus kenali dan tentukan tujuan hidup-mu, yuuuuk.

Wednesday, September 16, 2015

the 76th JSAP Autumn Meeting, 13 - 16 Sept 2015

Alhamdulilah, satu tantangan sudah terlewati.

sebagai bagian dari ritual menjadi researcher disini, meski secara administratif tidak akan dicantumkan dalam transkrip akademik, berpartisipasi dalam seminar/conference memang akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. dimulai dari gabung member komunitas "peneliti", daftar materi presentasi, kemudian harap2 cemas bakalan gol/tidaknya, hingga presentasi pada hari H. tentu saja, hambatan juga mengganjal di setiap tahapnya, seperti hasil penelitian yang akan disajikan kurang menarik, bahkan ada kalanya hasilnya gagal merujuk kepada suatu kesimpulan, wadoooh.


 seminar kali ini cukup menarik diulas, meski mungkin buat mereka yang sudah langganan ikut akan menjadi hambar. bagi saya, kesempatan ini memberi pelajaran untuk lebih saling menghargai antar sesama member, dimana beberapa dosen saya, pada kesempatan yang sama, juga "rela" memaparkan penelitiannya dan menerima "hujatan" dari audiens, layaknya seorang siswa program master yang bau kencur dalam hal research. ada juga beberapa kali, disaat sang pemapar (sepertinya mahasiswa juga) sudah gelagapan menerima pertanyaan, tiba2 tertolong karena ada seseorang yang mengaku melakukan peneletian bersama si pemapar (biasanya adalah sang dosen pembimbing) memberikan jawaban kunci nan analitis, sehingga penanya (yang biasanya juga seorang dosen pembimbing) langsung maklum sambil mengangguk2, sementara kami para mahasiswanya, hanya bisa melongo. ada pula tipe terlalu PD, biasanya karena mereka membawa nama besar universitasnya yang tersohor, namun karena materi yang disampaikan terlalu "berat", sehingga menjadi senjata makan tuan; hadirin gagal paham, pemapar juga kurang fokus menyajikan idenya. ujung2nya, terjadi lagi dialog antara para dosen pembimbingnya, dan untuk tipe ini, beberapa kali sang dosen mengakhiri jawabannya dengan minta maaf. 
nah, saya kebetulan tergolong mahasiswa yang nge-pas2n, baik dari segi ilmu maupun finansial, eh maksudnya bahasa pengantarnya. kalo hanya untuk presentasi dengan powerpoint, pada saat di kantor plus kursus pengajar dulu, bekal sudah cukup banyak dengan jam terbang lumayan. namun karena materi kali ini sangat awam bagi saya, ditambah lagi bahasa pengantarnya harus disampaikan kepada native speaker, wadooooh, sempat keder juga. alhasil, urutan penyampaian materi di-utak atik sesederhana mungkin, intinya ide bisa tersampaikan, dengan cara se-simple mungkin, hehehe. bahkan, trik lama pun dipakai, yaitu buat "lubang" agar penanya bisa digiring kesitu, and it's works, again. 
akhir kata, saya mendapati betapa minimnya ilmu saya, dan motivasi-lah kunci utama menuju kesuksesan. it is not what happened in the past, your goals are the most important, kurang lebih begitu pesan seorang berkebangsaan Perancis yang saya temui dalam lift, dengan bangganya dia memperkenalkan diri sebagai Assosiate Professor. yes, Sir !!

Tuesday, August 18, 2015

Ranah 3 Warna, catatan saya

pada saat pulang mudik ke Indonesia kemarin, dengan semangat setelah motivated untuk terus mengasah otak plus menghapus kesendirian dengan melarikan diri kepada buku, terpilihlah beberapa judul buku yang sebenarnya sudah cukup lama penasaran untuk membacanya, namun apa daya baru sekarang punya kesempatan, yaitu Ranah 3 Warna karya A.Fuadi, buku kedua setelah Negeri 5 Menara yang booming itu.
 meski bukan terbitan baru, dan resensi sudah ditulis banyak blogger, namun bagi saya membaca "semi biografi" seseorang tidaklah pernah menjadi hal yang membosankan. jujur saja, saya cukup impressed dengan buku pertama, dimana saya juga pernah merantau bersekolah di kampus berasrama dengan didikan khas serupa dengan suasana yang dialami penulis. maka, pada buku kedua ini saya tertarik untuk mengetahui perjalanan selanjutnya karena gaya bahasa yang digunakan sesuai dengan minat saya, berbeda ketika saya menyelesaikan kisah Laskar Pelangi dengan susah payah.

「ranah 3 warna」の画像検索結果
awal kisah yang diawali dengan kesengsaraan dan kesedihan, kiranya cukup memompa semangat maupun keinginan saya untuk terus bangkit dan maju, kebetulan di tengah tugas-tugas kuliah yang cukup menumpuk. paling tidak nasib saya masih jauh lebih baik dari Fikri, hehehe. konsep sabar yang berarti tidak hanya berdiam diri menerima cobaan cukup menusuk hati dan membangkitkan semangat untuk mencari jalan lain maupun berusaha lebih keras dengan perbaikan.

tarik ulur kisah cinta, hmmm, boleh lah, mungkin karena memang masa-masa mahasiswa adalah saat penuh gejolak asmara, hahaha, ini juga saya alami sendiri. meski kok merasa saya kurang greget dengan gaya penyampaiannya yang terlalu datar, tapi mengingat novel ini memang untuk segala usia, yaaaa bolehlah, toh saya juga sudah melewati usia 30 tahun, yang sebenarnya lebih membutuhkan sharing untuk kedepannya, hahahaha.

setelah bagian keluar negeri, semangat saya hilang. apalagi penulis terkesan memaksakan menerjemahkan 3 warna dengan memasukkan transitnya yang hanya sebentar untuk melengkapi pijakan kakinya di tiga ranah yang berbeda. maaf ya mas, menurut saya kok kurang pas, apalagi sudah dimunculkan pada awal bagian kisah di Kanada, jadi ceritanya kebelakang serasa hambar bagi saya. 

semoga, dalam buku terakhir yang sudah saya nitip belinya, saya kembali mendapat pencerahan. 

Tuesday, August 11, 2015

aktif mencari tahu, yuk

Minggu lalu saya sempat terkesima, membaca halaman Fanpage seorang profesor asli Indonesia yang sudah menunjukkan kesuksesannya dalam bidang penelitian di negeri Jepang ini. Saya tertegun dengan foto tumpukan buku baru dengan tag, siap untuk dibaca, demi mengasah otaknya, menemukan apa yang selama ini terlewatkan, begitulah kurang lebih. karenanya, saya perhatikan tumpukan buku itu, ternyata tidak melulu bertemakan materi penelitian, namun juga terselip beberapa novel, tulisan non fiksi, analisa politik, yang tentunya juga multi bahasa.

「tumpukan buku」の画像検索結果Penasaran, saya scroll arsip kebelakang, ternyata bapak ini sepertinya memiliki ritme tertentu untuk panen tumpukan buku bacaan ini.Tebakan saya, mungkin ada kerabat atau kenalan, bahkan sengaja titip dibawakan buku dari tanah air, karena biasanya lebih murah, lalu disaat bersamaan membeli buku berbahasa Jepang dengan genre yang berbeda.Beliau saja, yang menyandang status sebagai profesor, dengan berbagai macam gelar kependidikan dan penghargaannya, masih merasa perlu dan kurang untuk selalu membaca, bahkan tidak menutup diri hanya dengan menunjukkan kemampuan di satu bidang. Nah saya, status boleh mahasiswa S2, namun jangankan untuk melirik novel, bahkan untuk sekedar browsing artikel maupun jurnal yang mendukung research saja, sudah ampun bukan kepalang. Kemauan jelas ada karena terpaksa diharuskan mencari sumber sebanyak mungkin guna mendukung naskah thesis, namun kemampuannya masih belum imbang dengan tuntutan. Jikalau hanya membaca, mungkin selintas mata bisa saja dengan metode speed reading. Namun untuk menemukan inti naskah dilanjut mencari hubungan dengan materi penelitian plus menerapkannya, hmmm sepertinya masih butuh latihan.

Tidak salah jika menilik kembali doktrin dasar yang pernah dijejalkan pada saat SMA dulu, aktif mencari tahu, kiranya perlu digenjot lagi. Kemauan sudah ada, ayo tingkatkan kemampuan. Semoga Allah memberkati sumpah dan janji kita, ヨッシャ~、行け!!