Tuesday, July 30, 2019

secercah itu muncul

hanya bisa bersyukur, ketika kembali tersadar atas nikmat-Nya

sudah sejak lama sebenarnya, keengganan ini muncul dalam hati. bahkan dalam beberapa kesempatan, lisan ini sempat berucap dengan penuh kesungguhan. dan mungkin itu yang menjadi doa . . doa yang kemudian menimbulkan secercah harapan, hehehe. skenario telah berputar sesuai rencana-Nya. beberapa kali saya "akhirnya" menyadari hal ini, semua memang terjadi pada waktunya. bertubi-tubi ujian yang sudah datang sesuai kronologis waktu, memang sudah akan menempa diri ini menjadi pribadi yang semakin siap menerima rejeki-Nya.

Alhamdulillah

memang sih, masih ada beberapa hambatan kecil yang berpotensi membesar jika dibiarkan. tapi ya, kan masih ada Allah . . masih ada waktu, dan yang penting, yakinnya tetap supaya istiqomah dengan ketentuannya, karena itulah yang terbaik untuk diri ini. 

Friday, March 15, 2019

ketika tersadar bahwa ALLAH telah mengabulkan doamu ...

sudah banyak yang terjadi sejak saya telah berkumpul lagi dengan keluarga kecil di tanah pasundan .. sombong sedikit, bisa mengklaim hal itu adalah ujian. tapi jika mau flashback sedikit, bisa juga dikategorikan sebagai hukuman, atas kelalaian saya selama ini .. iya, sudah sekian lamanya lalai.

lalai apa mas?
sudah, gak perlu dibahas, sudah ditutup sama Allah, begitu katanya.

memang, setelah 2 tahun terpisah, keluarga saya akhirnya berkumpul utuh . . selama 2 bulan .. 4 bulan berikutnya, istri yang terpaksa meninggalkan kami karena sekolah. tak dinyana, kebahagiaan yang dinanti tak berselang satu malam. setelah istri sekolah, giliran saya yang pergi .. bahkan kembali membawa kesedihan bagi keluarga. sedikit kesempurnaan itu diambil-Nya, cukup untuk menempa saya menjadi pribadi yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.

berangsur kesehatan saya pulih, istri pun kembali harus berpisah dengan keluarga dalam jangka waktu yang cukup lama. babak baru LDR dimulai lagi, kali ini bertambah dengan cacat saya. belum selesai disitu, sebuah telpon di suatu siang menggetarkan hape saya, nomor baru tentunya. beliau di seberang sana menjelaskan rencananya untuk menarik saya bergabung bersama staffnya, memperkuat satuan lama, duluuuuu, yang pernah amat saya idamkan untuk mengabdi di sana. tapi itu dulu, sebelum saya berhadapan dengan realita lapangan saat itu, yang cukup kejam. ah, belum lagi konflik dalam keluarga saat ini. saya dan istri lalu mengajukan peninjauan ulang terkait penugasan istri, namun Allah masih memberi saya tembok tinggi yang tak dapat ditembus.

akhirnya, si sulung yang dikorbankan kemudian. menyusul si kecil, ketika waktu untuk pergi itu benar telah tiba. kami merantau di tiga tempat berbeda. iya, 3 dapur. alhamdulillah mertua masih sehat, sehingga anak-anak masih bisa terawat dengan kasih sayang mereka. akhir tahun, saya dan istri sepakat, keluarga haruslah berkumpul, semaksimal mungkin. berturut2, istri, si kecil dan disusul si sulung sudah dapat dikumpulkan kembali dalam rumah dinas kami.

3 hari lalu, sebuah telpon dari seorang rekan masuk. membahas rencana masa depan saya yang sedikit tertunda. adakah harapan itu muncul kembali?

manusia berencana, kehendak Allah lah sebaik-baiknya. 

Wednesday, November 07, 2018

it's been a while

pagi ini, mendapat email notifikasi dari server blogger, subject-nya sama dengan judul tulisan ini, mungkin sudah ada sistem otomatis jika pemilik blog udah lama gak "nyambangi" rumahnya, hehehe.
memang, sejak beberapa waktu ini, tetiba tergerus kesibukan yang, lebih tepatnya malas untuk menulis lagi.

WAIT ... sik, sik

bukan malas menulis tepatnya,
lebih ke malas membaca, yang berujung kurang input, dan pastilah menjadi gak ada yang diolah, njur bablas outputnya.

apalagi sejak pindahan ke yogya, sepertinya sudah banyak PR menumpuk di jabatan baru. meski sudah mulai terbaca, harus bisa nunjukin warna tersendiri. maklum, beban.

sudah, ini saja dulu

Tuesday, January 30, 2018

mengenal-i Al Quran, melalui the story of the Qur'an karya DR. Ingrid Mattson

Mungkin selama ini kita hanya mengenal Al Quran sebagai kalam Allah, yang menjadikannya kitab suci umat Islam. Ada data terbaru yang menyatakan, lebih dari 60% bahkan, kaum Muslim masih buta huruf terhadap Al Quran. Waduh . . .
Tak dapat dipungkiri, Al Quran yang dijaga kesuciannya hingga tetap tersebar dalam bahasa aslinya, yaitu Arab, menjadikannya suatu tantangan tersendiri terutama bagi mereka yang bahasa ibunya bukan dari golongan semenanjung Arab. Kemudian, tak hanya melafalkannya, umat Muslim masih harus ditantang lagi untuk memahami isi Quran melalui sekian versi tafsir yang dikarang oleh para ulama ahli. Sebelum nabi Muhammad wafat, penafsiran terbaik adalah dari beliau. Namun setelahnya, yang dikenal dengan hari terputusnya wahyu dari langit, para sahabat dan ahli ulama pada abad berikut harus berhati-hati dalam upayanya menjelaskan isi Al Quran demi kepentingan dakwah agama Islam.
DR. Inggrid telah memaparkan sejarah, dengan latar belakang berikut perjalanan turunnya Al Quran, hingga yang dipegang kaum Muslim saat ini. Mata saya terbuka, saat sadar bahwa nabi Muhammad seorang yang buta huruf; beliau menyampaikan ayat demi ayat melalui lisannya, mengeceknya kepada tiap sahabat yang menghafalkannya, hingga akhir hayat beliau. Mushaf Al Quran yang saya pegang saat ini, adalah hasil karya ulama pada abad berikut, yang dalam perjalanannya sudah mengalami sekian bentuk perubahan guna memudahkan dibaca. Tentu saja, keasliannya selalu terjaga dalam metode lisan yang ternyata memiliki setidaknya 10 dialek dengan jalur sistem pewarisan yang luar biasa dari sumber awalnya, Allah kemudian nabi Muhammad.

Penulis menggunakan cara penulisan layaknya paper ilmiah, mencantumkan referensi dalam footnote, serta tak satupun mencantumkan tulisan arab. Setiap ayat yang dikutip, setidaknya merupakan terjemah dalam bahasa setempat, yang menjadikannya satu bahasan tersendiri dalam menyikapi versi tafsir seperti ulasan DR. Nadirsyah Hosen pada tulisan saya sebelumnya. lantas, bagaimana endingnya?

Iqra' . . sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rasullullah, cari ilmu, sebarkan.

Friday, November 17, 2017

Tafsir Al-Quran di Medsos : membaca dengan bijak

Ketika akses terhadap informasi menjadi semakin mudah, orang akan cenderung dengan cepat menjadi “tahu”, lalu bisa memberi “tahu” yang lain, hingga menjadi yang paling “tahu”, dan pada akhirnya, ah sudahlah. Debat berkepanjangan di medsos tentang tafsir ilmu keagamaan terutama yang berhubungan dengan Al-Quran telah memanggil pengarang untuk turun gunung karena saking prihatinnya terhadap kondisi umat yang sering menunjukkan sikap seperti pada kalimat pembuka. Bahkan, berani mendebat ulama, yang diumpamakan seperti seorang pasien “memastikan” kepada dokter tentang khasiat resep yang dituliskan padanya.
Memang benar sih, ada baiknya jika memang kita turut peduli tentang ke-shahih-an suatu riwayat maupun tafsir, selain itu dapat menambah keyakinan dan keimanan kita (sugesti agar cepat sembuh untuk obat), namun yakinlah, para ulama – ulama itu (ataupun pak dokter) sudah mengenyam sekian ribu jam mempelajari apa yang mereka sampaikan dengan hati – hati, ketimbang langsung menelan mentah – mentah tulisan di medsos yang belum tentu dibuat dengan kajian mendalam.
Buku ini membuka mata saya, bahwa layaknya kajian ilmiah, Al-Quran yang menjadi pedoman umat muslim, sudah sekian banyak mengalami kajian yang luar biasa dari para ulama termahsyur. Bahkan, hingga kini pun, ayat yang tampak jelas masih perlu dikaji dari berbagai sudut pandang, guna semakin memahami firman Allah SWT. Adanya perbedaan pendapat para ahli tafsir pun hendaknya disikapi dengan bijak, dengan menjadikannya khasanah guna memperkaya pengetahuan, yang tentunya dalam batas-batas yang telah digariskan.
Ada beberapa bab yang saya kurang sreg dalam buku ini, yaitu mengenai konteks pilkada (sebut saja DKI) yang memang saat itu mencuat menjadi topik membara. Saya maklum, memang isi buku ini adalah rangkuman tulisan pengarang di beberapa media online. Namun, bagi saya pribadi, topik tafsir ayat tersebut kurang perlu jika harus memperoleh porsi sebanyak ini di dalam buku.

Terimakasih Gus, mata saya terbuka bahwa belajar agama sekarang bisa seasyik saat-saat dipaksa mencari jutaan jurnal terserak demi penyusunan thesis lalu. Al-Quran, Hadits, ilmu hidup, bismillah.

Tuesday, October 31, 2017

Bocah – bocah Pirikan : refleksi sebenar-benarnya

Buku ini sebenarnya sudah terbit pada 2010, tepat pada peringatan 20 tahun SMA TN, almamater saya yang telah merubah warna hidup sedemikian rupa. Namun, saya baru berkesempatan memiliki dan membacanya saat ada tawaran paket bundling dengan sekuelnya, B2P 2.0 yang rilis bulan lalu. Jika dilihat angka tahunnya, memang tahun tersebut saya masih terpuruk kalau tidak bisa dibilang terjerembab dalam rutinitas mengabdi pada negara, halah.
Buku ini berisi catatan beberapa alumni terpilih yang perjalanan hidupnya lumayan bisa menginspirasi, setidaknya untuk dibuat perbandingan dengan lika-liku hidup saya. Idealisme serta doktrin yang begitu kuat ditanamkan selama di Magelang, kemudian diuji pertama kalinya saat mereka lulus dan melanjutkan ke jenjang berikut, cukuplah menyejukkan, betapa hidup tidaklah selalu indah. Banyak cerita sukses, namun tidak sedikit pula yang kembali ke titik nol. Cuman ya itu tadi, sedikit banyak para alumni TN susah untuk dengan sengaja meninggalkan kata-kata “ … memberikan yang terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia”. Berat kan?!
Bagi saya, tidak semua tulisan dalam buku ini bagus, karena memang ada beberapa yang “nyata2” tidak sinkron/sewarna dengan tulisan lepas lainnya. Entah apa pertimbangan editor saat itu, namun saya berkesimpulan, B2P pertama ini masih kurang layak jika dibaca oleh khalayak di luar keluarga besar SMA TN.
Semoga sekuelnya lebih baik, 

Wednesday, October 25, 2017

What I talk about when I talk about Running : kenyataan indah dalam pelarian

Pain is inevitable, suffering is optional. Ketika dihadapkan pada pilihan untuk berupaya agar terus hidup sehat, Murakami memilih lari. Dia sadar, bahwa dengan profesinya sebagai seorang penulis yang membutuhkan kondisi stamina agar dapat terus sehat dan mendapat ide segar bagi karyanya, olahraga lari adalah opsi yang paling pas. Selain karena lebih mudah (hanya butuh sepatu dan music player), dia juga dapat menemukan inspirasi dan pemikiran jernih lainnya selama berlari. Murakami yang telah menekuni lari lebih dari seperempat abad hidupnya, telah menjajal sekian banyak event Marathon serta beribu kilometer latihan dengan rutin, hingga lari telah menjadi kebutuhan baginya, bukan sekedar gaya hidup yang dipaksakan.
Dengan kepiawaiannya sebagai seorang penulis novel, Murakami mampu menghadirkan tulisan yang sekaligus menjadi diary dalam rutinitasnya berlari. Secara apik dia menceritakan suka duka hidupnya, sembari menuangkan benak pikirannya ketika berlari, hingga kemudian menutupnya dengan keinginannya untuk tetap berlari, ya, dan setidaknya, dia belum pernah menamatkan suatu perlombaan lari dengan berjalan.

Bagi saya, seorang pelari “pemula” jika dibanding Murakami, menjaga idealism untuk tetap berlari demi kesehatan pribadi saja cukup susah. Selalu saja ada alasan untuk menunda jika waktu ber-olahraga-lari rutin tiba. Memang, mengalahkan diri sendiri adalah perang terbesar sesuai hadits Nabi. Namun, tulisan Murakami disini setidaknya kembali memperkuat pondasi agar saya tetap konsisten berlari (meskipun beberapa waktu ini agak susah untuk berlari). Toh, saya juga sedang menapaki jalan sebagai seorang penulis, menjejaki jalan yang dipilih Murakami, tentunya ibarat dia sudah diatas puncak Candi Borobudur, sedangkan saya masih baru naik tangga bis ke arah Magelang, wkwkwkw.

Friday, October 20, 2017

47 ronin : pejuang tak bertuan

Hasil gambar untuk 47 ronin bookSaat majikan menjadi korban, karena alasan apapun, dendam haruslah dibalaskan. Bahkan, salah satu aturan bagi seorang samurai, tidak boleh hidup dibawah langit yang sama dengan pembunuh tuannya, telah menjadi harga mati yang melandasi cerita utama novel ini. Berlatar pada jaman ketika pengaruh samurai mulai luntur di Jepang, dimana para bangsawan penguasa daerah mulai diatur sedemikian rupa oleh kekuasaan kaisar di Edo (Tokyo saat itu). Pengaturan kekuasaan ini tentunya juga diwarnai penyimpangan, khususnya yang berurusan dengan upeti maupun sogokan. Tokoh antagonis utama, Kira, akhirnya menang secara hukum, yang mengharuskan bangsawan Asano melakukan “seppuku”, keluarganya diasingkan dan seluruh hartanya disita negara. Tentunya, para samurai pengikut setia klan Asano lalu mengemban misi luhur untuk membalaskan dendam keluarga Asano dan mengembalikan kehormatan klan, meski nyawa mereka menjadi taruhannya.

Cerita di novel ini cukup berbeda dengan plot yang sudah difilmkan dengan judul sama. Tidak muncul peran Keanu Reeves seperti layaknya Tom Cruise dalam The Last Samurai, wkwkwk. Perjalanan panjang Oishi, pimpinan samurai klan Asano dalam mengatur strategi pembalasan dendam majikannya digambarkan dengan jelas dari sudut orang ketiga. Saya akui, sangat sedikit dialog antar tokoh dalam cerita ini, termasuk kata-kata bijak seperti yang saya temukan saat membaca novel tentang samurai sebelumnya. Cerita mengalir begitu saja, bahkan terkesan membosankan jika sedari awal saya tidak menjaga rasa penasaran akan bagaimana kisah ini akan berakhir. Namun, ada baiknya, pembaca juga menonton film-nya, supaya tahu bahwa novel selalu lebih manis daripada versi layar lebar.