Thursday, September 07, 2017

Jembatan Musim Gugur : maju mundur dan melompat

Setelah hampir 10 tahun menunggu "ketemunya" si buku, akhirnya setelah menunda sambil curi-curi waktu, babak kedua buku Samurai karya Takashi Matsuoka ini selesai dibaca juga (versi bahasa Indonesia-nya y)
Ekspektasi setelah membaca buku pertama rupanya cukup terbayar, karena cerita dalam sekuel ini sepertinya memang full melanjutkan alur yang sudah di-plot dari awal. namun, namanya juga sudah mendekati satu dasawarsa, sedikit banyak saya sudah lupa bagaimana detil cerita pada buku pertama, termasuk bagian2 yang sedikit membingungkan dalam buku kedua ini, yaitu plot yang melompat2 serta berganti sudut pandang dari berbagai tokoh yang dikisahkan. memang, penekanan dalam buku ini terletak pada sejarah klan Okumichi sendiri, bagaimana awal kutukan itu muncul, bumbu2 disekitarnya, ditambah korelasi terhadap peristiwa sejarah aktual yang terjadi pada saat itu.
seperti yang dituliskan beberapa kali dalam buku ini, "mengetahui masa depan tidaklah ada bedanya dengan mengingat masa lalu, kita hanya dapat mengerti dan mencoba memahami makna yang terkandung didalamnya". cara pandang terhadap bangsa Jepang, bagaimana orang Jepang menilai orang "bule" dan pola pikir mereka terhadap tradisi lalu dibandingkan kondisi riil sekarang ini, lumayan nyambung jadinya, hehehehe.

next, 47 ronin maybe??

Thursday, July 27, 2017

integritas recehan

wah, tumben judulnya berat bingits?

beberapa minggu ini, mungkin tekanan dari pekerjaan yang lumayan membingungkan hingga tanpa terasa, usia tubuh bertambah dan menyentuh angka 31, duh (FYI; selama di jepun 2 thn kemarin, usia tubuh saya berkisar antara 25-28 th, mostly disebabkn pola hidup "dipaksa" sehat yang saya jalani). lho kok bisa?
secara fisik, kegiatan ngantor selama jam dinas ini tidaklah banyak membutuhkan pembakaran karbohidrat, bahkan boro2 berkeringat, kalau perlu pakai jaket sambil berjemur dilakukan hanya untuk mengusir hawa dingin dikantor. memang, perjalanan p.p 30 km perhari diatas motor cukup memberi beban pegal, terutama di punggung plus ditambah macet, hahaha. namun kiranya, jadwal olahraga selasa dan jumat sudah bisa memberi sedikit waktu untuk sekedar meluruskan punggung sembari nambah kiloage di endomondo, halah.

nah, dimana yang bikin tua?

pikiran!!!
segitunya?
iya, sampai malu ...
ada (klo tidak boleh dibilang banyak) yang berebut kerjaan demi selembar merah dan biru, padahal ketika dihadapkan pada gawe tersebut, malah ditinggalkan dengan status prabayar.
adaaaaa, yang memaksa ingin tahu supaya bisa dapat nilai bagus, tapi mbok ya jangan segitunya juga om, kita sama2 belajar, kan malu klo jelas2 melanggar aturan tapi masih dilakukan
ada lagi yang menuduh konspirasi di level dewa terkait hitung2n point, dimainkan lah jadi yg diterima para budak ini tidak sebanding dengan hasil jerih payahnya
ada pula yang ...

saya hanya berusaha menangkap hal positip dari semuanya, sambil tetap ingat bersyukur sembari menjaga kewarasan, supaya tidak terhanyut arus namun tetap survive tanpa terkikis, hehehe

Tuesday, July 18, 2017

Jack Ma : ...

akhirnyaaaa ...

setelah sekian bulan merasa tidak produktif, selesai juga baca buku ini. awalnya sih memang cukup tertarik dengan segala embel2 di cover page, apalagi tokoh utama dalam buku ini lumayan sering lewat timeline FB dengan quote2 bijaknya.

tapi,
apa mau dikata, baru lembar ketiga dibaca, sudah banyak keanehan yang ditemukan. mulai dari kata sambung antar paragraf yang susah sekali ditemukan (WTF!) hingga cerita yang berloncatan?? sedikit bisa dimaklumi mengingat ini adalah buku terjemahan (dari bahasa China) dan mungkin translatornya juga tidak bisa berbuat banyak jika dihadapkan pola pikir pengarang. entahlah ...
sebenarnya banyak kata2 bijak om Jack, termasuk filosofi China yang diterapkan dalam setiap tindak tanduknya. termasuk cara berpikir yang out of the box (salah satunya, perbaikilah atap "rumahmu" saat cuaca cerah; bukan saat musim hujan), kegigihannya belajar English serta Tai Chi.

kembali lagi, kesemuanya rontok karena gagal fokus atas amburadulnya koneksi cerita.
not recommended yah

Wednesday, March 08, 2017

Shizuoka Marathon : melarikan diri, mengenal batas

   saat dua tahun lalu, ditanya seorang dosen tentang hobi, lalu saya jawab dengan "lari", kemudian beliau kembali bertanya, "wah, ikut marathon juga ya?", dan spontan saya mengelak, mana mungkin, lha wong lari 5km saja butuh effort yang amat sangat, hehehe. namun, tidak sampai setengah tahun kemudian, saya berhasil finish 10k dengan catatan yang tidak jelek juga, hingga kemudian terpikir, full marathon? WHY NOT?!.
   mulailah jalan panjang memaksa fisik untuk mencapai target itu, dari belajar endurance, lari jauh termasuk segala tips serta ikut beberapa event demi mendekati capaian yang diinginkan. benturan jadwal research serta pola pengaturan waktu untuk latihan, kiranya cukup memaksa perhitungan yang benar2 ruwet, karena salah keseimbangan sedikit saja, bisa2 badan terlalu capek hingga berimbas kurang konsen pada research, ujung2nya malah rugi kedua2nya. hingga akhirnya, hari penentuan perang harus segera ditentukan, karena terbatasnya event Full Marathon yang menyediakan medal finisher, dikaitkan dengan jadwal dan lokasi pelaksanaan, hingga saat itu menyisakan hanya dua opsi event, Shizuoka Marathon yang memang agak jauh dengan Koga Marathon namun jadwalnya terlalu mepet dengan hari wisuda. hitung biaya akomodasi dan lainnya, terpilihlah Shizuoka Marathon, meski deg2n juga dengan pengaturan jadwal latihan.
   tibalah saatnya start. segala persiapan, termasuk carbo loading yang setengah gagal, lanjut istirahat yang kurang maksimal, tapi run must go on. sepatu pun yang sempat menjadi PR terbesar, sepertinya dapat terbantu dengan kaos kaki super pembagian resmi panitia, serta didukung cuaca cerah nan hangat. target 4h30m sudah dipasang, dengan memo 9 titik COT dan tantangan finish sebelum habis baterainya si Garmin ForeAthlete 10J (± 5h). hingga titik 20km, tidak ada masalah berarti, semuanya sesuai rencana dan latihan, hanya saja frekuensi minum agak banyak, karena panitia berulang kali mengingatkan bahwa cuaca cukup "terik" yang mudah memicu dehidrasi. okelah, alhamdulilah hal ini bisa teratasi, dan memang tidak sekalipun saya berkeinginan untuk buang air kecil, meski di setiap water station setidaknya segelas air dan air mineral diminum. pada beberapa spot toilet darurat yang disiapkan panitia, selalu nampak antrian panjang pelari menunggu giliran. 
   hingga lewat separuh jalan, mulailah terasa ada yang tidak beres. si kaos kaki super memang luar biasa, tidak ada keluhan sama sekali meski pada sesi latihan, saya pernah mengalami kaki lecet ataupun kram pada telapak untuk jarak 21k. nah, kali ini, otot belakang tungkai di kedua kaki terasa kaku. saya memang tidak pernah berlari lebih jauh dari 24k sekali waktu, dan cukup menjadi mimpi buruk, meski sebenarnya saya masih punya waktu sisa cukup banyak sebelum COT. mulailah saya menerapkan jalan-lari-jalan hingga akhirnya ada sukarelawan yang mendonasikan salonpas semprot untuk mengurangi ketegangan otot tungkai.
   balik pace awal dong? NGGAK juga. km 25 to 35, posisinya pas di pinggir pantai. meski cuaca terik, angin laut yang dingin cukup membuat badan gemetar meski sebenarnya sudah cukup panas karena berlari 3jam lebih. kondisi ini memicu masalah berikutnya, yaitu otot paha yang kaku di sekitar km37. mulut komat2 sambil mata jelalatan cari tukang semprot lagi, dan alhamdulillah, si mbak muncul lagi mendekati km40. waktu yang tersisa setelah pace melorot dihitung ulang, dengan tingkat kesadaran yang jauh dibawah normal. dengan jalan kaki pun, insyaallah masih bisa sampai finish mepet COT, namun karena ingat pengalaman saat latihan jalan, kaki malah lebih mudah kram, diputuskanlah tetap combine lari-jalan. dengan sisa tenaga, akhirnya sampai juga garis finish, alhamdulilah bisa pulang bawa medal.
   dengan kaki tertatih, masih ada 3 jam lagi perjalanan panjang ber-kereta plus menaiki tangga 4 lantai ke kamar. untunglah masih ada kebanggaan, dibanding mereka yang finish setelah COT, hanya diberi handuk berwarna putih dengan tulisan, masih ada harapan tahun depan, duh. oh iya, si Garmin kuat juga ternyata. lewat 5jam, dia hanya kelap2 dengan notif batery low, n berdasar pengalaman, dengan kondisi ini, si doi masih sanggup digeber sejam lagi, hehehe. kudu di-eman deh, buat ngikut event berikutnya, tapi Half sudah cukup. sudah.

Thursday, February 16, 2017

start up nation : sisi lain Israel

   secara tidak sengaja, saya mendapat rekomendasi tentang buku ini dari pak M.Nuh, mantan Mendikbud, orang NU sekaligus dedengkot ITS saat sharing session beliau di Tokodai tahun lalu. kaget juga awalnya, untuk ulama sekelas beliau, malah menyarankan baca buku tentang Israel yang notabene musuh utama dalam perjuangan Palestina menjaga tanah leluhur bagi kaum Muslim, dengan segala perjuangannya. sempat terhenti di sepertiga awal karena written in English dan tuntutan deadline thesis, namun karena cara penyajian dan kisah yang tidak bisa ditebak, maka akhirnya finish juga di akhir tahun ajaran. 
   dari 400n halaman, seperempat bagian akhirnya adalah referensi. WHAT??? iya, saking banyaknya footnote dan rajinnya si penulis melakukan study baik wawancara or referensi lainnya, sesi ini jadi membludak hingga memakan porsi yang luar biasa, setidaknya dari beberapa buku non-fiksi yang pernah saya baca. memang mengherankan, melihat betapa patriotisme-nya para pimpinan Israel yang begitu ingin membuat negaranya hidup, di tengah gempuran ketiadaan kampung halaman secara geografis, perang yang nampaknya tak berkesudahan, namun kesemuanya bisa dimenangkan karena cita-cita yang kuat.
   tidak heran Amerika begitu besar menginvestasikan kepentingan mereka kepada Israel, yang mungkiiiiin menjadi alasan kuat sang penguasa seakan diam saat militer Israel dengan kejamnya (dari pandangan saya) menggempur Palestina. dengan segala potensi dan komitmen bangsa Israel yang dijabarkan dalam buku ini, rasanya akan susah untuk "move on" begitu saja, meskipun akhir-akhir ini muncul kekuatan baru dalam hal teknologi dan ekonomi seperti China, India, Korea maupun Singapura. tekanan dari bangsa Arab pun, seakan menambah cambuk bagi masyarakat Israel agar lebih gigih untuk berusaha tetap menjadi yang terdepan. data pertumbuhan ekonomi dan investasi asing maupun perkembangan dunia akademis kiranya cukup menjadi bukti yang relevan atas keajaiban yang terjadi di Israel, terutama jika dibandingkan dengan beberapa negara sekitarnya, ataupun negara maju lainnya. 
   kemauan dan kegigihan serta inovasi, seperti beberapa kutipan pemimpin Israel yang dituangkan dalam buku ini, "go far, stay long, see deep", "the most careful thing is to dare", peran didikan wajib militer dengan etos-nya : to teach people how to be very GOOD at a lot of things, rather than excellent at one thing; bukan sekedar tahu segala akan segala, hehehe. 
   buku ini tidak merubah pandangan saya terhadap konflik Palestina-Israel, bahkan sebaliknya, menyadarkan bahwa butuh kekuatan yang jauh lebih besar untuk memenangi kumpulan masyarakat imigran yang tersisih, namun memiliki bakat superioritas serta visi yang kuat. 

Monday, February 13, 2017

belajar dari si anak singkong

   sebenarnya sudah sejak lama saya mengetahui keberadaan buku ini, tapi mungkin disaat itu, kendala finansial-lah yang sepertinya memaksa saya menunda keinginan untuk "membelinya", meski sempat beberapa orang di sekitar saya terlihat sedang membacanya. hingga akhirnya, ada kelonggaran rejeki juga bertepatan dengan gelaran diskon, jadilah "keturutan punya" meski termasuk obsolete. gomennasai.

   pun, setelah beli ndak langsung dibaca, apalagi tamat semalam. si dia masih harus nangkring di rak buku bersama beberapa pendahulunya yang disalip oleh cetakan file pdf berisi data dan gambar yang lebih mendesak untuk diolah demi menentukan masa depan yang lebih cerah, halah.

   anyway, buku biografi pak CT ini cukup inspiratif, terutama bagi orang seperti saya yang baru tahu jika beliau sebenarnya adalah seorang dokter gigi tulen (setidaknya itu kesimpulan dari informasi yang saya dapat dari buku ini). akal2n pak CT dalam proyek awal fotokopi berlanjut dengan pangsa pasar lainnya, lumayan membuka pikiran bahwa adakalanya seseorang perlu bekerja lebih jika ingin survive, tidak melulu pasrah pada keadaan apalagi menyerah. beliau menunjukkan keberkahan dari Yang Maha Kuasa saat ada kemauan, meski salah satu imbasnya ya mengurangi waktu pribadi, but it worth. 
   di tengah buku, alur sedikit mundur (bahkan tak jarang melompat ke depan lagi) tatkala beliau bercerita masa-masa kecil hingga pengasahan pola pikir yang out of the box lewat kegiatan di luar sekolah. ambisi ataukah kemauan keras, kiranya cukup menjadi pendorong, hingga beliau berhasil secara bertahap menjadikannya kebiasaan, lalu membentuk pondasi diri dan membuat perbaikan hingga menjadi sukses yang tak terbantahkan. meski ada beberapa kisah pahit maupun kegagalan, namun hal itu menambah kuat insting serta keinginan untuk terus bekerja ikhlas hingga tuntas. 
   beberapa kali tercantum "gebrak meja", meski sekilas bermakna konotatif, tapi jika diterapkan disaat yang tepat, maka hasil lah yang akan bicara dengan sendirinya. cita2 beliau memunculkan wirausahawan yang nasionalis sangat sedikit dimunculkan, ataukah mungkin secara sengaja tidak ditunjukkan? kutipan yang tepat dicetak di sampul belakang, 

"tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai seperti membalikkan telapak tangan. tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan (CT, 2012)"

Sunday, January 01, 2017

(not) celebrating New Year

1 Januari 2017

sebenarnya tidak ada yang istimewa dari momen tahun baru kali ini, karena memang saya aslinya bukan tipe yang suka ribet ataupun sengaja "turut" merayakan tahun baru, kecuali dua tahun lalu saat dapat perintah dadakan sebagai panitia countdown di kantor. namun tahun ini, karena kondisilah yang memaksa saya "tidak" bisa bertahun baru.

24 Desember lalu, Ibu berpulang ke rahmatullah. beliau sudah sakit mungkin sejak tahun lalu, namun baru benar2 drop dari akhir bulan Ramadhan lalu hingga kami pun terpaksa menyambut Idul Fitri di ruang rawat inap rumah sakit. mungkin ini rencana terbaik dari Allah, juga kami tidak tega melihat penderitaan beliau yang terus merasa kesakitan diatas tempat tidur.

dan pagi ini, ibu asuh saya di Jepang, mengirimkan email kesekian kalinya sembari untuk sekedar menanyakan kabar saya setelah meninggalnya Ibu, sekaligus mengingatkan, bahwa saya tidak dapat bertahun baru menurut budaya Jepang, karena ada anggota keluarga yang berpulang di tahun sebelumnya.

innalillahi wa inna illaihi rojiun

Tuesday, November 08, 2016

batas menyerah hanya diujung waktu

   berawal dari bongkar2 barang buat persiapan dibawa pulkamp, akhirnya nemu tas pinggang spesial buat lari ini dalam kondisi terkunci. kok?? iya, seingatnya, sudah lebih setahun menganggur sejak ganti smartphone yang ukurannya diluar batas muat, jadi terpaksa ditinggal tanpa sadar petaka yang muncul berikutnya.
   bagian slider resleting macet di penghujung posisi tutup. dan inilah petaka tadi, rupanya molekul garam dalam keringat saya sudah sedemikian mengendapnya hingga mampu meninggalkan jejak karat berwarna biru pada hampir seluruh bagian slider tadi. otomatis, untuk menekuk pengait saja susah, apalagi untuk menggeser posisi. perkiraan awal, dengan sekali semprot rust remover or cleaner komersil seperti WD40, akan mampu mengatasi masalah ini, sebagaimana saat dongkrak mobil macet maupun tuas lampu sein agak rewel beberapa waktu lalu. semprotan pertama, sukses membebaskan gerak pengaitnya, meski karat biru masih nampak jelas saat cairan semprot mengering. dua, tiga, hingga lima kali semprot, slider masih tak bergeming, duh apa yang salah??
   hasil gogling, ternyata permasalahan serupa cukup banyak dialami, terutama oleh nelayan pada tas kerja mereka. eh, nelayan? yup, nelayan yang rajin sharing pengalaman mereka di internet, sebagai most user yang tiap hari hidup diatas evaporasi air laut. berbagai analisa maupun tips dan trik dari level biasa hingga ekstrim pun lumayan dibeberkan, dan untuk kasus saya pun sudah mendekati tingkat menengah advance, hahaha. ini karena status slider yang sudah berkarat, namun karena relnya terbuat dari plastik, otomatis tidak cukup dengan hanya mengandalkan jenis rust remover yang memang terkhusus untuk logam. lalu bagaimana dong?
   ada opsi dengan vinegar (cuka) atau coca-cola. keduanya dipercaya mampu mengikis karat dengan merendam setidaknya semalaman (seringkali lebih). saya pun lebih nyaman memilih coca cola, selain mudah didapat, toh efek bau yang ditinggalkan tidak akan terlalu parah dibanding dengan jenis cuka, yang di Jepang ini pun juga sangat banyak jenis dan komposisinya. coca-cola pun, dipilih yang standar (bukan yang zero cal or varian lainnya) karena dari beberapa video life hack di youtube, jenis ini yang paling powerfull, hehehe, dan sisanya bisa diminum. 
   alhasil, memang benar cairan ini sakti. karat biru hilang, berganti dengan karat normal coklat kehitaman, bahkan setelah dicuci dengan air bersih. namun masalah utama masih seperti sediakala, slider masih keukeuh di tempat. hadooooh. gogling lagi, ada solusi yang mencontohkan dengan merendam dalam cairan sabun dan air panas, hmmm. teorinya, karena kain dan rel dari plastik basah, maka gaya tarik akan semakin kuat sehingga akan bertambah sulit dibuka, masuk akal sih. pun, semprotan rust remover berbasis silikon juga sudah terbukti sukses, entah level berapa itu, hehehe. oke deh, air panas, sabun cair, aduk dan rendam lagi.
sukses? belum juga rupanya. 
   masih belum ada ancang2 si slider mau beranjak dari tempatnya. sebenarnya masih terpikir 3 opsi lagi, yaitu congkel rel dengan jarum layaknya maling koper bandara yang mencongkel tas penumpang dengan bolpen; nunggu weekend beli semprotan silicon-based; or alternatif terakhir banget, bongkar resleting meski kurang yakin juga apa bisa mengingat jahitan dari adidas cukup rapi dan rapet. nah, di penghujung menyerah karena sikon tadi, sambil komat kamit, si tas mungil dibilas air dingin setelah seharian berendam air sabun, dan, sreeeeet, eh, yess!! 
   alhamdulilah, slider seketika mau diajak kompromi dan berfungsi normal seperti sediakala. meski bekas korosi masih nampak jelas, terutama di kain sekitar rel yang macet, namun masalah sudah SOLVED. entah teori mana yang berhasil jadi kunci, namun yang jelas, dengan adanya bukti serbuk keputihan menempel di sekitar rel, jelaslah kejadian saling-gigit sehingga saat itu slider enggan menjalankan tugasnya. 

begitulah, penting ndak penting, semoga bermanfaat.