Tuesday, July 28, 2015

catatan mudik 1436 H






Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin


kiranya, hampir semua pesan sms ataupun broadcast message yang beredar melalui smartphone saya bernada serupa di penghujung Ramadhan tahun ini. Alhamdulilah, saya masih diberikan kesempatan untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga saya, meski sedikit bergeser dari keinginan awal, tapi tetaplah patut disyukuri.

menuju Indonesia
Perjalanan yang saya tempuh, dimulai dari berangkat dari mess tercinta, yang baru saya tinggali sejak bulan April lalu, untuk menuju Tokyo guna pamitan sekaligus menyelesaikan perijinan yang wajib karena status saya sebagai pegawai negeri. Rencana awal untuk berangkat menggunakan commuter line ke bandara Haneda, terpaksa dibatalkan karena rupanya ada dukungan kendaraan yang mengantar dari KBRI, alhamdulilah, meski saya juga kasihan dengan driver yang harus meluangkan waktu liburnya demi saya. Check-in Haneda aman, imigrasi clear, kemudian boarding sampai dengan pesawat take-off menuju Cengkareng, nothing spesial.

Image result for mudik

nah, pada saat jam makan siang, para pramugari GA sepertinya tidak menyiapkan menu khusus atau "memberi" toleransi kepada mereka yang berpuasa. memang sih, tidak ada kewajiban untuk mendukung umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, namun sebagai maskapai pemerintah RI, alangkah baiknya, jika mereka menawarkan "special option" bagi warga muslim, terkhusus WNI yang sudah memilih penerbangan dengan mereka. berdasar jadwal, penerbangan saat itu memang dijadwalkan pada 11.30 AM hingga 17.15 WIB, sehingga tidak ada kesempatan bagi penumpang muslim untuk makan jika mereka memilih untuk menjalankan puasanya hari itu. beruntung, penumpang di sebelah saya memutuskan untuk berbuka puasa pada pukul 03.00 PM (infonya, dia memilih mahzab dimana jangka waktu berpuasa mengikuti waktu Arab, yaitu sekitar 15jam, terhitung dari sahurnya, detilnya saya kurang tahu, meski dalam hati ingin sekali bertanya lebih jauh), sehingga saya memanfaatkan waktu itu untuk "meminta" jatah makan siang saya guna saya bungkus sebagai bekal "buka puasa" yang sebenarnya nanti.

Cengkareng-Bandung perjalanan lancar dengan jasa travel yang agak sedikit lebih mahal, alasannya tuslah, oke deh.

Bandung - Semarang (400km),
meski kali ini sedikit was-was, mengingat hampir 4 bulan saya absen nyetir dan kondisi mobil yang lebih banyak nongkrongnya plus keterbatasan waktu untuk last check ke bengkel, namun akhirnya perjalanan bisa terlewati dengan aman. 13jam sudah lebih baik, mengingat ini juga musim mudik, apalagi 6 jam kemudian, media massa menayangkan berita kemacetan luar biasa, hingga untuk menembus jarak 25km saja membutuhkan waktu 15jam pada rute yang telah saya lewati. Alhamdulilah.

Semarang - Bandung
karena istri sudah harus ngantor esok harinya, mau tidak mau, kami harus pulang. alhamdulilah lagi, perjalanan bisa terselesaikan kurang dari 10jam. hampir tidak ada kemacetan berarti, selain mengantri masuk tol antara Tegal-Brebes, selebihnya jalanan lancar layaknya weekend. namun, rupanya fisik tidak bisa dibohongi. badan sakit semua, hidung bumpet plus mbeler, ditambah lagi mata yang mulai bengkak, haduuuuh.

kembali ke Jepang
liburan tak terasa, karena memang hanya 10 hari termasuk perjalanan P.P dengan pesawat internasional plus bersuka cita mudik lewat pantura. meski sempat was-was karena menurut siaran breaking news, jalur menuju Jakarta macetnya sudah tidak bisa diampuni, namun akhirnya sampai juga saya di bandara Cengkareng setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari Bandung. sedikit diluar perkiraan, bahwa barang bawaan bagasi saya ternyata cukup banyak dan berat juga, apalagi ditambah titipan dari KBRI untuk sekalian mengangkut seragam paskibra. seperti biasa, boarding di Soetta menjadi hal yang melelahkan. setelah beberapa kali screening barang bawaan oleh pihak bandara (prosedur yang bagus sh), akhirnya penumpang kembali harus naik turun tangga setelah menunggu di gate maskapai, kemudian lanjut feeder bis menuju gate lain, kembali naik tangga barulah kemudian bisa masuk pesawat. entahlah. perjalanan dengan pesawat lumayan nyaman, meski sang mentari sepertinya terlalu cepat menampakkan dirinya, sehingga mata ini masih menagih beberapa menit lagi untuk beristirahat. landing Haneda, lewati imigrasi, ambil bagasi, senyum pada Custom, kemudian lanjut commuter line menuju kampus tercinta.

sudah musim panas rupanya,


Thursday, June 18, 2015

bujang lokal dan Ramadhan



alhamdulilah, Ramadhan 1436H telah tiba.
hingar-bingar serta keriangan itu sedikit terabaikan, mengingat status saya sebagai seorang mahasiswa (lagi) di negeri yang umat Islam-nya minoritas, ditambah lokasi kampus yang memuncaki bukit di ujung desa Obaradai, plus pagar serta aturan yang membatasi untuk keluar-masuk akademi, pokok'e ndeso lah

Image result for nasi pecel teringat kenangan setahun lalu, ketika saya masih berdinas di Madiun, tepatnya di perbatasan dengan kabupaten Magetan pada saat bulan Ramadhan. weekend adalah ujian tersendiri, dimana saya harus berbuka-tidur-dan-sahur di sepur, hehehe, maklum keluarga tinggal di Bandung, jadi rutinitas tersendiri untuk menemui mereka di akhir pekan. saat harus kembali pun, istri selalu menyiapkan bekal dobel, karena jadwal kereta ke arah timur tidak memungkinkan saya untuk bisa berbuka puasa bersama keluarga selain sabtu malam, pun jika tidak ada undangan buka bersama ataupun makan diluar. 

urusan buka puasa, alhamdulilah tidak seribet untuk makan sahur. penjual takjil banyak, apalagi tidak jarang kami mendapat undangan buka bersama di rumah pejabat ataupun rekan kantor, yang peduli dengan nasib para bujang lokal penghuni mess. yaaa, memberi makan orang yang berpuasa pahalanya sama dengan menjalankan puasa, begitu infonya. nah, saat sahur ini yang agak ribet. selain tempat tinggal kami yang agak terpencil, sudah semestinya jarang juga warung yang buka tengah malam, apalagi jika di area yang memang sepi seperti perbatasan madiun-magetan. untunglah, ibu kantin berbaik hati membuka lapaknya, meski dengan menu sederhana khas madiun yaitu nasi pecel untuk buka puasa dan nasi pecel untuk sahur.

inilah yang saya sesalkan, betapa seringnya saya menggerutu saat itu karena menu sahur itu-itu saja. namun dibanding sekarang, sungguh betapa nikmatnya jika kita tidak perlu susah2 berpikir menu makan, tidak was-was kebablas tidak sahur, ataupun sekadar berkelakar dengan sesama penghuni mess menikmati kebersamaan sebagai bujang lokal. memang benar nasihat yang mengatakan bahwa, disaat susah, hendaklah kita selalu melihat kebawah. sekarang, saya merasa susah dan dibawah, adakah yang masih dibawah saya? 

Monday, May 11, 2015

I'm home !

Alhamdulillah,

 meski baru sempat sekarang untuk (berani) menulis lagi, paling tidak momen kembalinya saya ke negeri sakura ini patutlah disyukuri. setelah sekian tahun bermimpi, mencoba, kandas, berharap kembali kemudian putus asa hingga akhirnya berhasil menginjakkan kaki di saat bunga sakura sedang bermekaran, ciiieee ..

awalnya, memang keinginan untuk kembali (tentunya dengan tujuan belajar) sudah timbul sejak kelulusan studi S1 tepatnya 9 tahun lalu. namun karena aturan, sehingga keinginan itu harus disimpan dulu, menunggu masanya untuk direalisasikan. meski kesempatan sempat timbul tenggelam terkait kebijakan (yang sewajarnya melanggar aturan), namun secercah harapan muncul 3 tahun lalu ketika seorang senior berhasil mendobrak "barrier" birokrasi yang selama ini berwarna abu-abu. berarti tinggal tunggu waktu nih,

ketika waktunya tiba, semua kualifikasi sudah ditangan, persyaratan juga sudah terpenuhi, namun kembali ada sedikit sandungan yang memaksa saya untuk mengantri, menerima jatah sesuai urutan, hehehe, oke lah..sempat ditawari untuk mengambil jalur lain dengan tujuan serupa, namun rencana Allah lebih indah, rupanya kesempatan itu cukup memberi saya ilmu bahwa proses tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dan kekuatan doa serta ibadah juga turut menentukan.

dan ketika akhirnya kesempatan itu datang, masih pula ditemani dengan ujian kesabaran (sambil dag dig dug) terkait proses birokrasi yang terkenal rumit serta faktor persaingan (yang sebenarnya masih bisa dihindarkan jika ada saling pengertian dan kelegowoan). detik-detik terakhir, muncul keputus-asaan karena putusan tidak segera disampaikan. ah sudahlah, begitu hati kecil saya berkata..manusia berencana, Allah yang memutuskan..saya berserah diri kepada yang Maha Berencana, toh rencanaNya-lah yang terindah.

happy ending? YES!!! saya berhasil ditunjuk sebagai penerima beasiswa selanjutnya, kendati persiapan masih panjang dan waktu yang terbatas, namun akhirnya saya dapat memulai program ini tepat waktu. seperti proses pernikahan, puncaknya bukan pada saat selesainya ijab qobul. namun, justru disitulah perjalanan dimulai. saya telah mengawali tahun pendidikan ini dengan bersumpah menjadi 'student' yang baik, dan akan saya buktikan.

semoga Allah memberkati sumpah dan janji kita, aaamin. 
さ~、頑張りましょう

Sunday, February 01, 2015

Pelayan(an) Kesehatan bagi Masyarakat Awam


Beberapa waktu yang lalu, kembali muncul pemberitaan tentang penelantaran pasien oleh salah satu rumah sakit ternama di level provinsi Jawa Barat. Meski hanya sekilas, namun masalah hampir selalu berkutat dengan anggapan bahwa pihak rumah sakit tidak bisa menerima pasien tersebut karena miskin/tidak mampu secara ekonomi, meskipun mereka (pasien) sebenarnya telah mengantongi kartu BPJS atau sejenisnya.

Miris memang, mengingat kesehatan adalah kebutuhan mendasar manusia setelah makanan, pakaian dan tempat tinggal. Apalagi telah dibuat aturan yang mengikat tentang penyelenggaraannya, dengan harapan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan semaksimal mungkin. Tapi, dengan sering munculnya kejadian “penolakan” ini, patut rupanya dicarikan solusi yang mudah dipahami juga dimaklumi oleh masyarakat awam kita.
Mengapa saya memilih kata awam?? Karena memang, saya juga bagian dari mereka itu, masyarakat awam yang hanya secuil-secuil berusaha memahami dan mengerti keadaan yang terjadi di sekitar kita. Sebelum back to topic, saya menegaskan bahwa saya bukanlah pegawai BPJS or asuransi sejenis, saya murni konsumen yang beberapa waktu lalu juga keberatan dengan kerumitan proses BPJS maupun claim kepada pihak asuransi yang saya ikuti, apalagi mengingat janji dan tawaran manis mereka saat menawarkan produknya (prospek-ing), ah …
Sejalan dengan waktu, ditambah dengan pengalaman langsung terlibat dalam proses tersebut, sedikit demi sedikit saya mulai memahami sekaligus memaklumi kendala yang terlanjur sering dipermasalahkan oleh sebagian besar masyarakat. Pertama, proses BPJS yang berjenjang dari faskes I sampai dengan rujukan ke rumah sakit tingkat lebih tinggi mungkin perlu sosialisasi lebih intensif, mengingat ‘kemudahan’ yang selama ini berlangsung, jika saya sakit maka saya dapat berobat ke lembaga kesehatan (rumah sakit/puskesmas) TERDEKAT, tanpa melihat status lembaga tersebut. Sistem rujukan berjenjang sebenarnya akan sangat memudahkan JIKA dilaksanakan ideal sesuai konsep yang digadang pemerintah. Saya sendiri mengalami pada saat harus mampir klinik radiologi dengan membawa rujukan dari dokter dari faskes I, namun tetap harus ‘rela’ mengantri kembali di klinik sejenis pada faskes yang memiliki unit radiologi, hanya karena sistem di faskes tersebut mengharuskan seperti itu. Ya, waktu terbuang meski pada akhirnya tujuan saya tercapai.

Aturan yang dibuat dalam sistem mungkin sudah bagus, namun dalam pelaksanaan ADAAAA saja ‘penyesuaian’ jikalau itu tidak boleh disebut penyelewengan. Nah, hal-hal seperti inilah yang layak disampaikan dalam sosialisasi agar saya serta konsumen yang terhimpun dalam kelompok masyarakat ini bisa maklum tanpa berkoar di media (massa + sosial) hingga pada akhirnya pihak lembaga kesehatan menggelar konferensi pers guna memberi kejelasan dari sudut pandang mereka. (kok kayak kesimpulan nih?? Memang, topik saya cukupkan sementara sampai disini dulu, bahasan kedua dst menyusul).

Tuesday, November 18, 2014

#BBMNaik


seperti sudah diprediksi, salah satu dampak kenaikan harga BBM bersubsidi tadi malam adalah ramainya kicauan maupun postingan di medsos. bahkan, timeline twitter saya pun (@gaijinme) tidak ketinggalan, trending topics-nya hampir satu suara, "mengeluhkan" kenaikan BBM.

saya yakin pemerintah sudah hitung2n sedemikian presisi-nya sehingga pada akhirnya memutuskan untuk mengurangi besaran subsidi pada ranah BBM. namun sepertinya rakyat belum siap menerima, terutama dari segi mental. selama ini hampir semua rakyat Indonesia "dididik" dalam lingkungan yang membenarkan harga BBM "rendah", yang notabene dibelakangnya ada campur tangan / subsidi pemerintah. besaran subsidi ini, yang saya yakin semakin membengkak sejalan dengan waktu, hanya diketahui oleh secuil masyarakat. dari secuil orang2 ini pun, masih banyak dari mereka yang berpikiran seperti "Indonesia adalah penghasil minyak, wajar jika minyak MURAH" serta dukungan opini publik yang semakin gencar beredar plus bumbu2 politik dan sarkasme.

saya juga berkeberatan dengan naiknya BBM ini, namun tetap tidak ingin reaktif. saya hanya ingin menyoroti kesiapan masyarakat dalam menghadapi kebijaksanaan pemerintah ini. pendapat saya, jika pemerintah sudah lebih dulu menyiapkan mental masyarakatnya, melalui pendidikan / doktrinasi / sosialisasi ataupun pemberitahuan serta pembentukan pola pikir yang lebih baik (mendekati realitas), saya yakin tidak akan terjadi aksi2 anarkis maupun reaktif berlebihan yang pada ujungnya merugikan diri sendiri. 

mungkin sudah menjadi kodrat saya, sebagai pegawai negara yang sudah disumpah untuk tetap setia dan selalu mendukung kepentingan bangsa, bahwa dengan segala aturan dan ketentuan dalam kedinasan, hingga tidak memungkinkan saya untuk protes ataupun menolak apalagi melawan dari setiap "kebijaksanaan"yang diterapkan oleh pemerintah, kecuali ya ... (NO COMMENT!!!). tetapi, demi mengingat moment kenaikan BBM ini, bolehlah saya membuat sedikit catatan dalam blog ini, yang harapannya tulisan ini bisa dinilai bersifat netral saja.

Monday, October 27, 2014

American Hustle

"the art of survival is the story that never ends"
- American Hustle -


kutipan sederhana, namun cukup bermakna bagi saya. secara kebetulan, malam minggu kemarin nonton HBO, pas film American Hustle sudah berjalan sekitar 20 menitan, namun karena beberapa pemainnya lumayan beken, jadi deh nonton sampai akhir dan beneran, really impressed me :D.

memang, alur film mirip-mirip Ocean'S Series (eleven, twelve, thirteen), banyak liku-liku dan intrik sepanjang cerita, dan berakhir dengan pemilihan ending yang cerdas, plus unpredictable. 

namun yang saya suka dan perlu digarisbawahi, bahwa makna cerita dalam film ini memang sesuai dengan realita kehidupan. tidak bermaksud untuk lebay sih, tapi dinamika hidup memang seperti yang ditayangkan dalam alur cerita, tidak bisa ditebak, penuh dengan perubahan dan adjusment serta kesepakatan, yang kesemuanya belum tentu happy ending. termasuk didalamnya, besar-kecilnya pengorbanan serta kerelaan untuk menerima kenyataan.

so, trigger UP !!!

Monday, December 30, 2013

2013 year-end vacation

Mengisi waktu akhir tahun yang sengaja ‘dikosongkan’ karena padatnya kegiatan kantor, kami sekeluarga sepakat untuk jalan-jalan keluar kota Bandung, yaaah itung2 memberikan kesempatan mereka yang masih penasaran buat merasakan “macetnya Bandung saat weekend/liburan”. Berikut ulasan singkatnya:

Cimanggu

Mengawali liburan, setelah pertimbangan yang cukup pelik (terutama soal biaya :D), kami memutuskan untuk pergi ke arah selatan, yaitu kawasan Ciwidey yang terkenal dengan beberapa lokasi wisata alamnya. Setelah browsing pada hari sebelumnya, kami memutuskan untuk mengunjungi Kolam Air Panas Cimanggu, sekitar 1 km setelah kawasan Kawah Putih. Seperti diketahui umum, bahwa rute Bandung-Soreang-Ciwidey adalah jalur rutin macet, makanya kami berangkat lebih pagi, selain menghindari kepanasan di jalan, juga supaya bisa lebih lama di luar rumah.
Sampai di Cimanggu, lokasi masih sepi, di parkiran baru ada 3 mobil dan beberapa motor. Masuk ke area kolam, hmmm, kolam gede sepertinya baru dikuras, sehingga yang bisa ‘dipakai’ hanya kolam kecil (40cm), lumayan lah buat nemenin Keenan berendam air panas, toh juga gak kebayang berenang gaya bebas di kolam air panas ukuran internasional, hehehe. Sempat kecewa dengan kondisi dasar kolam yang berlumut di beberapa tempat, namun di dekat pintu masuk, sudah terpampang papan ‘alibi’ bahwa sumber Cimanggu termasuk salah satu spot hot spring ‘unik’ yang hanya ada di beberapa  tempat di dunia ini. Kami beruntung, 2 jam setelah puas berendam dan makan siang lesehan (tikar & gubuk sewa terpisah, tawar saja jangan ragu), pengunjung yang datang semakin banyak dan mulai berebut masuk kolam..time to leave,

Situ Patengan

Sempat ragu karena sudah agak siang, akhirnya kami jadi juga masuk kawasan Situ Patengan. Area danau sangat luas, bahkan masih cukup asri bila dibandingkan dengan kawasan Tangkuban Parahu (TP), yang hampir tertutup parkiran mobil dan pedagang souvenir. Kiranya, pengelola area cukup cerdik menyiasati pembagian area wisata dan perdagangan, hehehe. Masuk area danau, tidak afdol rasanya kalau tidak naik perahu melihat spot ‘Batu Cinta’ yang berada di seberang danau. Jangan ragu menawar ongkos kapal, para penyedia jasa siap melayani bargain anda. Udara di sekitar danau cukup sejuk meski kala itu sudah jamnya shalat Dhuhur dan cuaca cerah, benar2 beda dengan area TP.

Kurang lebih 2 jam di Situ Patengan, kami rasa sudah waktunya untuk kembali, yaaah early go, early leave. Dan perkiraan itupun benar. Sepanjang jalan pulang, sisi sebelah kanan terlihat beberapa kali kendaraan keluarga antre naik ke arah Ciwidey. Alhamdulilah, kami hanya terkena macet sebentar saat masuk Soreang dan sebelum pasar Sayati. Sebelum adzan Maghrib, si mazda putih sudah nangkring kembali di parkiran rumah. It was a good holiday, 

Monday, August 12, 2013

Mudik 1434 H - the First Looong Journey

Sebagaimana tradisi dari hampir semua umat muslim di Indonesia pada umumnya, pada kesempatan libur lebaran Idul Fitri 1434 H tahun ini, maka kami sekeluarga pun turut berpartisipasi dalam acara rutin tahunan yaitu mudik ke kampung halaman. Seperti telah direncanakan sejak lebaran tahun lalu, bahwa tahun ini kami dari Bandung ke Probolinggo, Jawa Timur dengan misi utama, membawa si kecil supaya ketemu dengan Eyangnya.
Persiapan telah dilakukan maksimal, terutama dengan ‘tunggangan’ kami, yaitu Mazda Interplay th ’90 yang sudah 2 tahun ini jadi penunggu setia garasi rumah, mulai dari service rutin & tune-up plus ganti beberapa komponen, serta ganti 4 ban baru dan juga persiapan pembinaan fisik driver-nya, yaitu saya, mengingat rute yang akan ditempuh 2x dari rute tahun kemarin yang meskipun ‘hanya’ sampai Semarang, namun makan waktu hingga 19 jam perjalanan. Berikut catatan singkatnya :

Mudik I : Bandung – Semarang
Khawatir kejadian tahun lalu terulang, kali ini kami lebih prepared dengan mengumpulkan data & informasi seputar pantauan arus mudik baik dari televisi maupun twitter terutama pada jalur yang akan kami lewati, yaitu Bandung-Sumedang-Kadipaten-Cirebon lanjut Pantura sampai ke Semarang. Kami sengaja berangkat setelah buka puasa pada Senin 5 Agt dengan harapan kemacetan rutin di area Jatinangor sudah terurai dan tidak ada antrian ‘konyol’ yang makan waktu dan ujung2nya menghabiskan tenaga.
Alhasil, perjalanan sampai masuk tol Palikanci – Pejagan (masuk Plumbon) lancar jaya, meski sedikit tersendat saat melewati pasar Ujung Berung, namun selebihnya kondisi jalan ramai lancar. Keluar Pejagan, sedikit diluar harapan kami di-lambung-kan ke arah Slawi, karena info dari Twitter, konon saat itu area Brebes lumayan padat, meski akhirnya kami kembali ke rute Pantura melalui kota Tegal. Total perjalanan 11 jam dengan 3x istirahat di Kadipaten, Tegal dan sahur di Weleri.

Mudik II : Semarang – Probolinggo
Setelah istirahat ½ hari di rumah mertua di Banyumanik, kembali kami melanjutkan perjalanan setelah buka puasa ke Jawa Timur. Ini adalah pertama kali bagi saya menyetir kendaraan sendiri ke kampung halaman. Dari hasil survey, diputuskan untuk mengambil rute Pantura via Demak-Kudus-Pati-Rembang-Tuban-Lamongan-Gresik-Pasuruan-Probolinggo, karena jalan sudah bagus dan tidak seramai jalur tengah (Sragen-Ngawi-Jombang).
Perjalanan lancar, bahkan saking lancarnya, sampai2 saya ketakutan, karena jalan sangat sepi, penerangan minim, sehingga mobil bisa dipacu kencang, dengan tujuan ‘nyari bareng’, karena ya itu tadi, sangat sepi pi pi piiiii seperti bukan libur lebaran. Jalan baru agak rame setelah masuk kota Lamongan, meski mobil masih bisa melaju diatas 90km/jam. Total perjalanan 7jam dengan 2x istirahat di Lasem dan tol Gresik.

Balik I : Probolinggo – Semarang
3 hari 2 malam kami di kampung, saatnya kembali ke Bandung. Setelah silahturahmi dengan sanak saudara, maka pada Jumat 9Agt malam kami start untuk meramaikan arus balik mengingat hari senin sudah harus masuk kerja. Rute yang diambil sama dengan rute berangkat, dengan tetap berdoa agar perjalanan kami lancar dan bisa sampai Semarang dengan selamat untuk sungkem dengan keluarga mertua.
Alhamdulilah, doa kami terkabul. Jalan yang kami lewati masih sepi, meski sempat gerimis di Lamongan dan sempat salah jalan sehingga ‘terpaksa’ lewat area yang sepertinya digunakan balap liar di Tuban. Total perjalanan 6jam dengan 2x istirahat di Lamongan dan Pati.

Balik II : Semarang – Bandung
Meski sempat was-was terkena puncak arus balik, namun bagaimanapun kami tetap harus kembali ke Bandung pada Sabtu malam. Pantauan twitter maupun televisi menunjukkan beberapa titik kemacetan sudah menanti di rute yang akan kami lewati, seperti pertigaan pintu Pejagan maupun dalam kota Pekalongan. Secara mental kami juga siap tempur, guna berjaga2 jikalau memang macet dan terpaksa terjebak di jalan karena biasanya minggu pagi banyak acara Car Free Day, sehingga jalan2 utama ditutup, yang tentunya akan menambah jalur macet kami.
Keluar kota Semarang, jalan ramai lancar dan memang terasa suasana arus balik. Ditambah sempat macet sebelum masuk Pemalang dan Comal, serta saat masuk Pekalongan. Pintu tol Pejagan yang dikabarkan ditutup dan dialihkan ke arah Cirebon, ternyata sudah dibuka kembali pada saat kami baru keluar Brebes, sehingga tidak ada pengalihan jalur lagi seperti saat berangkat mudik. Keluar Plumbon, mobil langsung gas pol ke arah Bandung, jalan cenderung sepi, meski berkali-kali disalip beberapa mobil travel. Total perjalanan 9jam dengan 2x istirahat di Pemalang dan Pejagan (makan sate à not recommended, nothing special malah lebih mahal)

Overall, mudik kali ini lancar sekali, meski capek luar biasa, namun alhamdulilah anak istri tidak sempat sakit. PR tahun depan, gimana berhemat ongkos terutama untuk BBM, maklum mobil sudah renta & 1600cc pula :D